Rabu, 9 Mei 2018 19:51

Survey INSTRAT: 2DM 12 % Surplus dari RINDU

Reporter : Jumadi Kusuma
Dewan Pakar Indonesia Strategic Institute (Instrat), Sidrotun Naim.
Dewan Pakar Indonesia Strategic Institute (Instrat), Sidrotun Naim. [Net]

Limawaktu.id,- Paslon Deddy Mizwar - Dedi Mulyadi (2dm) surplus 12 % dibandingkan pesaing beratnya, pasangan Ridwan Kamil - Uu Ruzhanul Ulum (Rindu). Tiga bulan lalu, jelang debat perdana, kalah satu persen, kini unggul 11 persen.

Demikian hasil survei yang dirilis Indonesia Strategic Institute (instrat) yang disampaikan Dewan Pakar Sidrotun Naim, di Hotel Sawunggaling, Tamansari, Kota Bandung, Rabu (9/5/18).

Baca Juga : WALHI Tantang Cagub Jabar untuk Komitmen terhadap Lingkungan

Survei dilakukan dengan responden sebanyak 1.800 orang, dengan metodelogi multistrage random sampling, meliputi 27 kota/kabupaten tersample proporsional, tingkat kepercayaan 95 persen, dan margin of error kurang lebih 2,31 persen.

Menurut Sidrotun, tiga bulan lalu jelang debat publik pasangan 2DM berada di posisi kedua dengan potensi elektabilitas 24,1 persen sementara Rindu 25,6 persen, Asyik 2,1 persen dan Hasanah 1,9 persen.

Baca Juga : Kawal Reformasi melalui Partisipasi dalam Pilgub Jabar

"Tetapi kini pasangan 2DM 40,5 persen, Rindu 29,0 persen, Asyik 7,7 persen dan Hasanah 4,7 persen," jelasnya.

Naiknya jumlah pemilih pasangan 2DM tersebut, menurut Sidrotun berasal dari mereka yang pada survei sebelumnya belum menentukan pilihannya.

Baca Juga : Debat Kedua Pilgub Jabar 14 Mei di UI Depok

"Saat itu yang belum menentukan pilihan mencapai 45,2 persen, dan saat ini yang belum menentukan pilihannya hanya tersisa 17,8 persen," tambahnya.

Terkait indikasi jumlah pemilih Rindu telah tergerus pemilih 2DM, Sidrotun tidak menjawabnya secara tegas.

"Kalau kita lihat angkanya sih, saya kira tidak terlalu ya, ini bagaimana seseorang itu dikenal dan tentang kerja tim kampanye. Karena misalnya pak Deddy Mizwar itu sudah 40 tahun lebih malang melintang ya, orang lebih melihat sosoknya, atau Dedi Mulyadi itu diasosiasikan, misalnya apa ya, kan beliau sendiri, suka mengasosiasikan saya mah orang kampung, kalau kang Emil seorang arsitek seorang profesional yang banyak melakukan perubahan di Bandung. Itu yang paling berpengaruh," pungkasnya.

Baca Lainnya