Sabtu, 5 Mei 2018 14:13

Pemimpin itu Karaos, Kahartos, aya Artos?

Reporter : Jumadi Kusuma
Sosialisasi Pilgub Jabar di Gedung BKM Jl. Burangrang Kota Bandung.
Sosialisasi Pilgub Jabar di Gedung BKM Jl. Burangrang Kota Bandung. [Limawaktu]

Limawaktu.id,- Komisioner KPU Jabar Divisi SDM dan Hubungan partisipasi Masyarakat, Nina Yuningsih mengajak pemilih memerangi praktik-praktik intimidasi, politik uang, politik identitas, jual beli suara, dan menukar suara dengan sembako.

Apalagi sebagian waktu kampanye bertepatan dengan Ramadhan dan Idul Fitri, dengan peredaran kantong kresek berisi sembako semakin bertambah.

Baca Juga : KPU Cimahi Ajak Pemilih Milenial Tangkal Isu Hoax Pilgub Jabar 2018

Salain itu ada anggapan pemberian uang dari calon pemimpin disebut 'asal karaos, kahartos, aya artos' seolah-olah menjadi pembenaran money politic.

Hal itu dikemukakan Nina di hadapan keluarga besar Kopri PKC Jabar pada Sosialisasi Pilgub Jabar di Gedung BKM Jl. Burangrang Kota Bandung, Jumat kemarin.

Baca Juga : Tukar Suara dengan Sembako, awal mula Korupsi

Kegiatan itu juga dihadiri perwakilan IPNU, GMNI, GMKI, Jaman, PWNU, dan Pengurus Persis Kabupaten/Kota se-Jawa Barat.

Menurut Nina, kaum perempuan harus berani melawan tantangan itu dengan memahami pemilu dan peran sebagai pemilih.

Baca Juga : WALHI Tantang Cagub Jabar untuk Komitmen terhadap Lingkungan

"Meski kecewa terhadap pemerintah misalnya, kaum perempuan harus menggunakan hak pilih dengan baik," sebutnya.

Dengan memilih, ada peluang untuk mengubah pemerintahan ke arah yang lebih baik. Begitu pula sebaliknya, apatisme tidak akan membawa perubahan.

Baca Juga : Kawal Reformasi melalui Partisipasi dalam Pilgub Jabar

"Bagaimanapun juga pemilu merupakan upaya memilih pemimpin, yang selanjutnya melahirkan kebijakan, dan kebijakan itu memberi peluang perubahan," ujarnya sambil mengingatkan apatisme identik dengan memberi kesempatan kepada calon yang tidak baik untuk berkuasa.

Sementara itu, Ketua Kopri PKC Jawa Barat Ariyanti Marwah menjelaskan kegiatan sosialisasi yang bertema "Siapa Bilang Perempuan Alergi Politik? Meningkatkan Partisipasi Politik Perempuan" itu berangkat dari kegelisahan rendahnya partisipasi politik kaum perempuan.

Baca Juga : Debat Kedua Pilgub Jabar 14 Mei di UI Depok

"Dari 574 kandidat di pilkada, hanya 49 yang menjadi cagub/cawagub, cabup/cawabup, dan cawalkot/cawawalkot perempuan," tandasnya.

Jumlah ini tentu belum signifikan. Padahal, di tengah affirmative action kesetaraan gender dan sustainable development goals, kaum perempuan seharusnya mendapat kesempatan yang lebih baik.

Namun ia pun merasa berlapang dada, karena pemilu sekarang memiliki sensitivitas dan perspektif gender. Untuk itu, Ariyanti mengajak kaum perempuan menjadi aktor pemilih.

"Tapi tidak asal pilih, tidak pula menjadi alat kampanye politik praktis, serta menggunakan hak pilih pada 27 Juni mendatang dengan menjadi pemilih cerdas. Pilihlah calon pemimpin yang dapat dipertanggungjawabkan," pungkasnya.

Baca Lainnya