Selasa, 7 Agustus 2018 15:45

Ongkos Politik Mahal, Begini Analisa pengamat

Reporter : Fery Bangkit 
Arlan Sidha
Arlan Sidha [limawaktu]

Limawaktu.id, - Biaya politik di Indonesia yang disebut-sebut semakin lama semakin mahal menggelitik Pengamat Politik dan Ilmu Pemerintahan Unversitas Jenderal Achmad Yani (Unjani) Cimahi, Arlan Sidha.

Secara keseluruhan, kata Arlan, siapa saja yang akan mencalonlan diri menjadi anggota legislatif perlu modal besar. Selain modal sosial, tentunya modal besar secara finansial juga dibutuhkan.

"Modal finansial bukan untuk money politic, tapi sebagai cost politik yang meliputi banyak hal. Dari memobilisasi konstituen sampai kegiatan sosialisasi," kata Arlan saat dihubungi via pesan singkat, Selasa (7/8/2018).

Menurut Arlan, ada berbagai faktor mengapa ongkos politik, seperti dalam Pemilihan Legislatif (Pileg) ini besar. Salah satu faktornya tentu saja soal wilayah pemilihan yang berbeda-beda.

"Semakin luas jangkauannya, semakin besar juga ongkos politiknya," tuturnya.

Dikatakan Arlan, kegiatan memobilisasi masa hingga kegiatan sosial tentunya akan mengeluarkan dana yang cukup besar. Apalagi bagi calon yang sama sekali belum dikenal.

"Hal tersebut akan berdampak pada cost politik yang besar dan wajar," katanya.

Khusus di Cimahi, meski enggan mengomentari nominal yang dikeluarkan per calon, Arlan menilai tidak terlalu besar jika melihat luas wilayah yang ada. Meski begitu, besararan biaya yang harus dikeluarkan si calon juga tergantung strategi politiknya.

Dikatakannya, bisa saja dengan Rp 120 juta menjadi jumlah yang kecil bagi calon yang belum memiliki modal sosial tinggi sehingga perlu dana besar untuk memperkenalkan kepada masyarakat.

"Cimahi saya pikir tidak terlalu besar. Tapi kembali pada calonnya," tanda Arlan.

Baca Lainnya