Senin, 22 Januari 2018 5:12

Makna Hari Kasih Suara 2018 Dimata Kepala Kesbang Kota Cimahi

Reporter : Fery Bangkit 
Totong Solehudin, Kepala Kesbang Kota Cimahi.
Totong Solehudin, Kepala Kesbang Kota Cimahi. [Limawaktu]

Limawaktu.id - Hari Kasih Suara atau Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) akan berlangsung serentak di Indonesia 27 Juni 2018.

Tercatat ada 171 daerah yang akan memilih pemimpin. Ada 17 provinsi, 39 kota, dan 115 kabupaten menggelar pesta demokrasi.

Khusus di wilayah Jawa Barat ada 17 daerah yang dijadwalkan merayakan Hari Kasih Suara. Termasuk memilih Gubernur dan Wakil Gubernur.

Disetiap perhelatan pesta demokrasi, masyarakat pastinya akan berbondong-bondong mendatangi Tempat Pemungutan Suara (TPS) untuk menyalurkan hak pilihnya.

Jujur dan rahasia merupakan tagline dalam setiap pencobolsan yang dilakukan di Indonesia ini. Hati nurani dan kepercayaan tentunya menjadi landasan tersendiri bagi pemilih untuk menentukan pilihan pemimpin dimasa yang akan datang.

Soal kondusifitas dan keamanan tentunya menjadi perhatian tersendiri bagi pihak penyelenggara maupun fasilitator. Penyelenggara dalam hal ini Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan Panitia Pengawas (Panwas) memiliki tanggung jawab untuk menjalankan pemilu yang sukses.

Sedangkan fasilitator dalam hal ini pemerintah tentunya memiliki wewenang sebagai penyedia keperluan penyelenggara pastinya ikut terlibat melalui Desk Pilkada yang dibentuk.

“Kita memfasilitasi, pemerintah mau tidak mau kalau ada kegagalan, yang gagal bukan hanya panitia, pemerintah juga,” ujar Kepala Kantor Kesatuan Bangsa (Kesbang) Kota Cimahi, Totong Solehudin, Minggu (21/1/2018).

Sukses dan berhasilnya sebuah penyelenggaraan atau perhelatan event seperti Pilkada memang bergantung pada beberapa unsur, seperti panitia dan pasrtisipasi dari pemilih atau masyarakat.

Menilik saat hari pencobsolan yang berlangsung di tahun 2017 kemarin, tentunya menjadi gambaran betapa indahnya sebuah pesta demokrasi bila berjalan lancar dan sukses.

“Di Cimahi relatif aman, berjalan sebagaimana mestinya,” ucap Totong.

Terlepas dari euforia yang terjadi saat pencobolsan, diharapkan pesta demokrasi tahun ini menjadi gambaran dan acuan kedepannya agar tercipta pesta demokrasi yang lebih baik.