Jumat, 8 Februari 2019 10:44

Kenapa Politik Harus Jualan Hoax? Murah lagi

Reporter : Fery Bangkit 
acara 'Ngopi Senja' yang bertema 'Peran Ideologi dalam Mewujudkan Pemilu Damai' di Neka Kopi, Jln. Ciawitali, Kota Cimahi, Kamis (7/2/2019).
acara 'Ngopi Senja' yang bertema 'Peran Ideologi dalam Mewujudkan Pemilu Damai' di Neka Kopi, Jln. Ciawitali, Kota Cimahi, Kamis (7/2/2019). [ferybangkit]

Limawaktu.id - "Hoax itu kan mainan orang orang belum matang secara politik," ujaran yang terucap dari Engkos Kosasih itu cukup menggambarkan kondisi politik jelang Pemilihan Umum (Pemilu) 2019.

Pernyataan itu disampaikan Pengamat Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Jati (UIN) Bandung dalam acara 'Ngopi Senja' yang bertema 'Peran Ideologi dalam Mewujudkan Pemilu Damai' di Neka Kopi, Jln. Ciawitali, Kota Cimahi, Kamis (7/2/2019). Acara itu digagas HMI Komisariat Achmad Yani.

Baca Juga : Keputusan Bawaslu Soal Aa Umbara Dinilai Janggal, ini Sebabnya!

Ramai sana-sini, medsos ini itu ada berita bohong atau hoax, yang belum bisa dipertanggungjawabkan. Seperti jadi senjata atau cara, entah untuk menaikan atau menurunkan popularitas ataupun kredibilitas antar peserta.

Contoh saja informasi seputar adanya truk 7 kontainer berisikan surat suara palsu. Isu itu sempat heboh beberapa waktu lalu. Komisi Pemilihan Umum (KPU) maupun instansi terkait lainnya sudah menyatakan bahwa informasi itu adalah, hoax! Tapi masalahnya, masyarakat sudah termakan isu itu.

Baca Juga : Banyak APK Dipasang pada Aset Pemerintahan, Bawaslu Cimahi Bisa Apa?

"Budaya hoax itu melanggar pakem-pakem sosial, melanggar pakem-pakem moralitas," kata Engkos.

Bukan cuma itu yang dilanggar, melainkan ada pula sanksi hukumnya yang sudah diatur dalam Pasal 28 ayat 2 tentang ITE. "Tapi (malah) demi politik dihalalkan," ucapnya.

Baca Juga : Kontrak Politik, Senjata Capres Gaet Buruh Cimahi

Lalu, mengapa lebih banyak jualan hoax dibandingkan rekam jejak atau kapabilitas serta program?

"Mending jual rekam jejak, kredibilitas calon. Tapi kayanya orangnya (peserta Pemilu) gak pede gitu," timpal Engkos.

Menurutnya, hoax itu merupakan mainan orang yang belum memiliki kematangan secara politik. Mungkin, karena rapuhnya ideologi yang sudah dibangun. Bisa juga memang pemahaman ideologinya belum matang.

Ideologi itu bersifat abstark terhadap pilihan-pilihan yang bersifat filosofis. Kemudian, bila disandingkan dengan politik, maka akan menjadi menyatu. Sebab, politik merupakan implementasi dari pilihan-pilihan itu.

Jadi, kata Engkos, jika ideologi diberikan pemahaman-pemahaman yang matang, yang tepat, yang bisa menikmati bahwa demokrasi itu hanyalah sebuah pertandingan semata, maka konten hoax itu tak akan menjadi murahan. Dampaknya, jika semua elemen bisa menahan hoax, maka diyakini suhu politik yang lahir ialah politik yang humanis.

Generasi milenial Harus jadi Ambassador Tangkal Hoax

Tak bisa dipungkiri, generasi milenial menjadi salah satu elemen yang rentan terjerat hoax. Baik sebagai pelaku maupun hanya sekedar penikmat hingga akhirnya termakan isu bohong.

Menurut Engkos, kematangan moralitas menjadi salah satu penyebab rentannya generasi milenial tergiur isu hoax. Pencerdasan dan penyadaran dalam berideologi harus terus ditanamkan terhadap mereka. Jangan menjadikan politik itu sebagai yang utama. 

"Pertemanan, hubungan familiy itu jauh lebih utama daripada sekedar piliha-pilihan politik. Tapi kalau politik adalah segalanya saya kira bubarlah nanti ikatan sosial," pungkasnya.

"Kaum milenial mari kita rileks, mari enjoy menikmati pilihan-pilihan politik, tapi dengan ideologi yang benar, basis yang kuat," tambah Engkos.

Baca Lainnya