Senin, 19 Februari 2018 14:30

Islam, Islamisme dan Kebangsaan

Reporter : Jumadi Kusuma
​Jalaluddin Rakhmat, Sukmawati Soekarnoputri, Zuhairi Misrawi, Nadirsyah Hosen dan Inayah Wahid pada Kajian Islam Madani bertajuk Kebangsaan Dalam Ancaman Islamisme.
​Jalaluddin Rakhmat, Sukmawati Soekarnoputri, Zuhairi Misrawi, Nadirsyah Hosen dan Inayah Wahid pada Kajian Islam Madani bertajuk Kebangsaan Dalam Ancaman Islamisme. [Limawaktu]

Limawaktu.id,- Ada generasi baru yang muncul 20 tahun terakhir ini. Mereka adalah generasi yang tidak paham akan Pancasila yang mudah sekali digoyah dengan gerakan Islamisme. Karena sangat kurang wawasan kebangsaannya.

Gerakan Islamisme ini menggunakan istilah-istilah Pancasila dan NKRI, demikian kutipan pemaparan Prof. Dr. H. Nadirsyah Hosen pada kajian Islam Madani bertajuk kebangsaan Dalam Ancaman Islamisme yang digelar IJABI dan Komunitas Islam Madani bertempat di Gedung Serbaguna RJA DPR RI Jakarta Selatan, beberapa waktu lalu.

“Ada kekosongan dan kevakuman pendidikan pancasila dalam 20 tahun terakhir,” tandas Ketua Rais Syuriah Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCI NU) Australia ini.

Adapun narasumber dan tokoh lain yang hadir dalam acara tersebut antara lain Dr. KH. Jalaluddin Rakhmat, Dr. Zuahairi Misrawi, Dr. Usep Abdul Matin, Sukmawati Soekarnoputri dan putri (alm.) Gusdur Inayah Wahid.

Sementara itu Jalaluddin Rakhmat yang akrab disapa Kang Jalal memaparkan definisi Islam (Madani) dan Islamisme. Menurutnya Islamisme yaitu membatasi agama yang bersifat universal menjadi bersifat lokal, temporal dan terbatas pada kelompok tertentu, "Politisasi dari agama dan agamaisasi dari politik. Agama dijadikan politik, manuver politik atau politik dianggap sama seperti agama. Politisasi biasa dilakukan kaum oportunis untuk merebut kekuasaan".

Islamisme lebih menekankan pada ortodoksi yang mengutamakan aqidah dan ibadah ritual sebagai inti keberagamaan, sementara Islam Madani menekankan pada ortopraksi yaitu pada penampakan akhlak yang mulia sebagai ukuran utama keshalehan dan yang kedua adalah ortopati yaitu unsur emosional dalam kehidupan beragama yang mencoba merasakan kenikmatan dalam menjalankan agama yang merupakan warisan para sufi.

"Islamisme bersifat eksklusifisme dan bersikap intoleran sementara Islam Madani bersifat pluralisme dan toleran. Islamisme melakukan jihad transnasional untuk mengislamkan manusia dan mendirikan negara Islam (islamic state) sementara Islam Madani berjihad transpersonal mendidik diri dan menerima negara bangsa (nation-state). Islamisme menjadi ancaman Kebhinekaan dan Pancasila", jelas Kang Jalal yang juga Anggota Komisi VIII DPR RI Fraksi PDI Perjuangan ini.

Merespon Kang Jalal, Zuhairi Misrawi mengatakan “Kita harus cerdas membedakan antara Islam dan Islamisme. Karena Islamisme itu sudah terbukti gagal. Tidak ada contoh bagus yang menjadikan Islam sebagai dasar negara dan berhasil, Janganlah kita meniru kegagalan islamisme. Kita kan mengambil nilai-nilai subtantif dalam agama Islam. Takdir politik Indonesia itu Pancasila bukan Islamisme,” pungkasnya.

Baca Lainnya