Minggu, 17 Desember 2017 22:13

GOLKAR Baru itu Harus Struktur Baru dan Kultur Baru

Bendera Partai Golkar menghiasi pelaksanaan Munas beberapa waktu lalu
Bendera Partai Golkar menghiasi pelaksanaan Munas beberapa waktu lalu [limawaktu]

Penulis : Mahya Lengka

Gerakan 34 DPD golkar Provinsi untuk menyelengarakan Munaslub adalah kekuatan riil arus bawah Golkar. Dengan dimotori Dedi Mulyadi dari DPD Jabar, Munaslub adalah kemestian yang tak terbendung.

Baca Juga : Ali Hasan : Kalau Ada Money Politik, Saya Pecat Langsung

Apa tujuan Munaslub yang diinisiasi oleh para DPD? Tujuannya jelas: Menyelamatkan partai. Dan itu dengan cara mengganti ketum baru, dan memastikan lahirnya Golkar baru. Bagaimana agar tercipta Golkar baru? Selain ketum baru, syaratnya adalah Golkar harus membarukan struktur kepengurusan dan kultur.

Mengapa struktur kepengurusan harus diganti? Karena struktur saat ini adalah warisan ketum yang sekarang jadi terdakwa KPK. Struktur saat ini merupakan kepanjangan tangan ketum lama yang telah membuat elektabilitas Golkar terjun bebas. Jadi, mereka adslah bagian dari pihak yang bertanggung jawab. Sebagai wujud tanggung jawab itu mereka harus diganti. Struktur pengurus harus baru.

Perubahan struktur adalah tuntutan para DPD untuk Munaslub. Pergantian ketum baru hanyalah pintu pembuka bagi perubahan besar. Jika pergantuan ketum baru tidak diikuti perubahan struktur kepengerusan, maka Golkar takkan berubah dan tetap tidak bisa diharapkan publik.

Berbagai kalangan mencium adanya gelagat dari pihak DPP agar Munaslub hanya sebagai pengukuhan Airlangga sebagai ketum baru, dengan alasan posisi ketum lowong. Pleno DPP seolah hendak membelokkan tuntutan para DPD menjadi hanya pergantian ketum. Pleno yang mereka adakan seolah menjadi “saham” dan bargaining position agar Airlangga tidak mengubah struktur DPP. Sepertinya DPP ingin dianggap berjasa bagi naiknya Airlangga sehingga Airlangga tidak perlu mengubah struktur kepengurusan DPP. Ada anggapan dari sebagian kalangan bahwa DPP seperti hendak “menyabot” Munaslub.

Padahal yang dituntut oleh para DPD dan publik adalah lahirnya Golkar Baru. Dan kebaruan itu adalah perubahan struktur dan kultur di tubuh DPP. Slogan Airlangga “Golkar Bersih Golkar Bangkit” hanya bisa diwujudkan jika struktur dan kultur Golkar diubah secara mendasar dan revolusioner, sehingga benar-benar baru.

Agung Laksono rupanya menengarai gelagat dari elit DPP yang membelokkan tuntutan perubahan menjadi semata-mata penunjukan Airlangga sebagai ketum baru. Karenanya di media kita membaca bahwa Agung Laksono menegaskan agar Munaslub juga membicarakan perubahan struktur kepengurusan Golkar pusat. Dia menyebutkan bahwa Munaslub harus menghasilkan Golkar baru dengan struktur kepengurusan baru, dengan komposisi 60 persen wajah baru dan muda, dan 40 persen wajah lama dan tua.

Munaslub yang segera diadakan tanggal 18-19 Desember 2017 rupanya akan menjadi “pertarungan” orang-orang lama yang merepresentasikan kepanjangan tangan dari sosok terdakwa, dan orang-orang baru dan muda yang ingin menjadikan Golkar benar-benar baru. Baik secara struktural da kultural.

Kalau Golkar benar-benar mau bersih dan bangkit, maka ia harus benar-benar berubah. Sekalipun tidak seratus persen, namun ia harus memastikan bahwa arus perubahan itu harus dominan direpresentasikan melalui struktur yang baru. Mumpung pandangan rakyat sedang tertuju padanya, maka Golkar harus memanfaatkannya sebagai upaya branding baru bagi Golkar.

Bahkan, Golkar harus terus mempertahankan perhatian publik agar tetap tertuju kepadanya. Jangan sampai Munaslub menjadi antiklimaks yang lagi-lagi mengecewakan publik.

Gerakan Dedi Mulyadi dkk agar Golkar berubah secara struktural dan kultural harus diwujudkan dalam Munaslub ini. Dengan begitu maka Golkar akan kembali dipercaya publik.

Gagasan Dedi Mulyadi agar struktur penting DPP dan juga ketua DPR (dari Golkar) harus melewati uji publik (semacam fit and proper test) akan melahirkan kepercayaan publik kembali. Dan upaya ini akan membuat Golkar selalu disorot dan diperbincangkan. Itu akan menjadi poin yang sangat positif, yang kelak berujung pada kenaikan elektabilitas.

Karenanya, untuk memastikan lahirnya Golkar Baru, Bersih dan Bangkit yang dipercaya publik, maka gagasan dan peran besar Dedi Mulyadi harus diwujudkan dalam Munaslub ini. Sebab, ruh perubahan Golkar saat ini terpersonifikasi dalam sosok Kang Dedi.

Sehingga Munaslub harus mempertimbangkan Kang Dedi untuk mendapatkan kewenangan yang semestinya untuk mewujudkan Golkar Baru bersama ketum baru, Airlangga. Entah apa pun posisinya.

Jika tidak, Golkar tetap tidak menarik, dan akan makin ditinggalkan.

Baca Lainnya