Jumat, 19 Januari 2018 22:59

Aries: Video Porno di Kota Bandung Adalah Aib Besar

Reporter : Yulie Kusnawati
Aries Supriatna, Calon Wakil Walikota Bandung.
Aries Supriatna, Calon Wakil Walikota Bandung. [Limawaktu]

Limawaktu.id - Peningkatan ekonomi cukup tinggi Kota Bandung, namun peningkatan kemiskinan pun tidak kalah tingginya dengan peningkatan Ekonomi, karena terlihat dengan adanya kasus kemiskinan yang mengakibatkan orang tua yang menjual anaknya yang masih di bawah umur untuk melakukan aksi pornografi.

Calon Wakil Wali Kota Bandung 2018, Aries Supriatna mengatakan, dengan adanya video porno yang terjadi di Kota Bandung sangat memprihatinkan yang luar biasa, karena Kota Bandung sebagai ibu kota provinsi Jawa Barat, kota yang terdekat dengan ibu kota negara Jakarta, dan Kota Bandung yang terkenal sebagai kota pendidikan ternyata di relung-relung terdalamnya di pingiran masih terjadi seperti itu.

"Ini merupakan sebuah aib sebagai masyarakat Kota Bandung, sehingga kita mengabaikan persoalan sosial sehingga terjadi hal-hal seperti itu, dan kedepannya aib besar ini harus bisa di cegah agar tidak terjadi kembali," kata Aries saat ditemui di Cafe Kopilur yang berada di Jalan Braga Kota Bandung, Kamis (18/1/2018) malam.

Oleh karena itu, lanjut Aries, sebagai Calon Wali Kota Bandung, untuk kedepannya, setelah pemerintahan jaman sekarang, dirinya akan lebih kepada persoalan infrastruktur kota. "Kedapan kita ingin fokus kepada kesejahteraan sosial, salah satunya penanganan kemiskinan, karena ternyata di pertumbuhan ekonomi yang tinggi di kota bandung, angka kemiskinannya ternyata ikut meningkat juga, tidak sebanding dengan pertumbuhan ekonominya," ungkapnya.

Padahal, menurut Aries, Kota Bandung memiliki anggaran yang cukup besar kurang lebih Rp 100 Miliar, bahkan di dinas Sosial sendiri mendapatkan angaran yang besar. Namun, katanya, persoalannya setelah di identifikasi selama tiga tahun Ia bertugas di Badan Anggaran. Anggaran yang diberikan tidak fokus jadi terpecah-pecah di berbagai macam SKPD, seharusnya anggaran fokus di dinas-dinas sehingga anggaran itu terkonsolidasi di satu lembaga.

"Kita masih sporadis, SKPD A, melakukan pelatihan untuk mereka dan SKPD B sama, dan hasilnya tidak fokus karena anggaran hanya di gunakan penyerapan kegiatan dan tidak betul-betul secara substansi melakukan pembinaan dan pendampingan," pungkasnya. (lie)*