Kamis, 15 Maret 2018 14:03

Analisis Survei Pasca Debat Publik Pilgub Jabar 2018

Survei Pilbug Jabar
Survei Pilgub Jabar [Net]

Penulis: Mahya Lengka

Media sosial ramai oleh hasil Survei terbaru Kompas 14 Maret 2018 yang merilis hasil survei pasca Debat Publik dua hari sebelumnya, 12 Maret 2018 yang disiarkan langsung oleh KompasTV.

Hasil survei Kompas bagi sebagian orang, telah membuat sebagian pihak sedih dan sebagian lagi bahagia. Tapi tulisan ini ingin menyatakan hal berbeda. Survei Kompas justru menjadi kabar gembira dan membesarkan hati semua paslon.

Pertama, dalam survei lembaga lain beberapa pekan lalu, pasangan Rindu masih paling unggul. Ia meraih sekitar 45 persen, di atas pasangan Deddy-Dedi yang sekitar 40 persen. 

Sedangkan dalam survei Kompas terbaru, Rindu sudah disalip oleh DMDM, dengan posisi DMDM 42,8 persen dan Rindu 39,9 persen. Rindu seharusnya tetap bahagia dan berbesar hati, karena selisihnya hanya sekitar 3 persen, setara dengan margin error.

Dengan selisih yang cuma 3 persen, itu artinya Rindu masih bisa menyalip lagi DMDM pada waktu yang akan datang. Selisih tiga persen membuat perjuangan Rindu untuk mengejar DMDM tidak terlalu berat. 

Semestinya, RK jangan terlihat one man show. Ia harus memberi kepercayaan pada Uu untuk tampil. Dalam debat pertama terlihat sekali bahwa Uu tidak diberi porsi untuk berbicara, kecuali sekali saja. Itu pun terdengar suara RK dalam TV bilang kepada Uu, "biar saya yang jawab." Tapi Uu sudah terlanjur berdiri dan akhirnya berbicara. 

Debat kemarin meninggalkan kesan buruk bagi keduanya. Uu terkesan tidak kapabel sebagai cawagub sehingga tidak dipercaya oleh pasangannya sendiri. Jika cagubnya saja tidak percaya, maka apalagi rakyat. 

RK terkesan merasa paling pintar sendiri, sehingga tidak bisa bekerjasama secara tim dengan cawagubnya. Kesan ini akan makin menggerus kepercayaan publik pada paslon Rindu.

Kedua, paslon Hasanah cukup berbesar hati mendapatkan 3,1 persen, walau masih sangat jauh untuk unggul akan tetapi kemajuan yang lumayan besar. Karena, dalam survei lembaga lain sebelum ini, Hasanah hanya meraih kurang dari 2 persen. Ini berarti ada peningkatan. Paslon dan pendukungnya melihat hasil kerjanya.

Sebagai paslon yang paling terlambat deklarasi, hasil 3,1 persen dalam sebulan adalah prestasi yang harus disyukuri. 

Penampilan Hasan dan Anton juga mencerminkan kerjasama yang baik. Keduanya tampil proporsional berperan maksimal. Bahkan, keduanya sangat menghibur dan mengundang tawa.

Molotot.com, edun, kadarkum (kadang sadar kadang kumat) adalah kata-kata yang membuat tertawa dan terhibur. Kehadirannya dalam debat membuat suasana segar dan tidak membosankan. 

Kedepan, Hasanah lebih memperkaya variasi materi kampanye dan makin menggencarkan program andalannya. Program Turkamling cukup menarik dan famliar didengar telinga. Tetapi masyarakat tidak tahu apa itu turkamling.

Ketiga, pasangan Asyik sekarang meraih 7,8 persen, sebelumnya mereka hanya mendapatkan kisaran 2,5 - 5 persen dalam survei dua lembaga berbeda. Jelas ada kenaikan yang lumayan. Berarti dalam sebulan masa pasca deklarasi, pasangan ini mulai meraih suara dari masyarakat walaupun masih jauh dari unggul.

Kombinasi keduanya juga cukup mencerminkan kerjasama dalam peran. Meskipun, dari penampilan debat kemarin terlihat bahwa Syaikhu lebih menguasai masalah ketimbang Sudrajat. Namun, sebagai figur baru yang baru dipasangkan, performa kemarin sudah lumayan. 

Sebaiknya Asyik jangan melakukan blunder. Syaikhu mengajukan pertanyaan yang terkesan menyerang Dedi Mulyadi dalam hal pohon berkain. Pertanyaannya tidak relevan, apalagi ketika ia menyatakan bahwa lebih baik memuliakan manusia ketimbang memuliakan pohon, lebih baik memberi pakaian pada anak-anak ketimbang pada pohon. 

Perbandingannya sangat tidak proporsional, logikanya salah alamat, dan menunjukkan kesalahan berpikir dalam menganalisa kebijakan seorang kepala daerah. Pertanyaan Syaikhu malah memberi kredit poin besar bagi Dedi Mulyadi untuk mengkoreksi logika Syaikhu. 

"Tunjukkan pada saya anak di Purwakarta yang tidak berkain. Bahkan hanya di Purwakarta, setiap hari Jumat anak-anak sekolah wajib berkain sarung yang rata-rata bagus," jawab Kang Dedi dengan enteng. 

Dalam ushul fiqih, logika DM justru menggunakan mafhum muwafaqah. Jika pohon saja diberi kain, maka apalagi manusia...? Jawaban Dedi jelas sangat telak, dan menjadi skakmat bagi paslon Asyik. 

Publik tentunya bisa membaca ke mana arah pertanyaan Syaikhu secara implisit. Namun justru ini jadi bumerang dan blunder baginya.  

Saran untuk Asyik, jangan gunakan isu-isu yang tidak logis dan proporsional. Itu akan menimbulkan antipati publik. Sebab publik juga sekarang makin cermat dan teliti. Lebih baik fokus pada program sendiri, bukan "menyerang" pesaing.

Keempat, pasangan Deddy-Dedi jelas yang paling berbahagia dengan hasil survei Kompas ini. 

Kerja keras sebulan ternyata telah membuahkan hasil bagus. Sebulan lalu pasangan ini masih berposisi kedua dengan raihan 40 persen di bawah Rindu yang 45 persen. Tetapi kini sudah menyalip signifikan dengan raihan 42,8 persen dan meninggalkan Rindu pada perolehan 39,9 persen. 

Gaya kampanya Deddy-Dedi yang berbeda (non mainstream) dari paslon-paslon lain ternyata telah meraih simpati publik yang sangat besar. Kampanye natural, tidak dibuat-buat, menggali partisipasi masyarakat dan sejenisnya ternyata sangat efektif dan mengena. 

Benar kata Dedi Mulyadi dulu (kurang lebih), "Lawan saya bukan mereka. Tetapi diri saya sendiri. Kalau saya malas menemui masyarakat, itulah lawan saya. Lawan saya adalah kemalasan."

Hasil ini pasti sangat disyukuri oleh para relawan dan pendukung paslon nomor 4. Akan tetapi, mereka tidak boleh lengah. Perjalanan masih panjang, dan perjuangan masih berat. 

Dari segi chemistry, pasangan Deddy-Dedi sudah sangat klop dan saling mengisi. Keduanya bisa berperan sama baiknya, dengan kecakapan masing-masing yang saling memaksimalkan. Pasangan ini telah memperlihatkan slogan Sajajar menjadi kenyataan yang terlihat publik. 

Jawaban Deddy dan Dedi dalam debat pertama kemarin juga lugas dan bernas. Tentang Meikarta, Deddy menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi dan mungkin selama ini disalahpahami. Tentang pohon berkain, Dedi juga menjawabnya dengan sederhana, santai,  lugas dan telak. 

Saran untuk paslon nomor 4 Deddy-Dedi, perolehan 42,8 persen harus ditingkatkan menjadi 50 persenan lebih. Meskipun calon ada empat, namun raihan 50 persen akan lebih menjamin kemenangan secara meyakinkan. 

Hasil hari ini sudah baik. Tetapi mereka harus terus menggenjot suara hingga jauh meninggalkan pasangan posisi kedua. Para relawan dan pendukung harus makin solid dan ekspansif, dengan cara dan pendekatan yang simpatik, proaktif dan solutif. 

Apa pun, selamat untuk semuanya. Teruslah berjuang. Dan ingatlah pepatah ini:

"Barangsiapa bagus awalnya, akan bagus akhirnya."

"Awal yang baik adalah setengah pekerjaan. Sedangkan akhir yang baik adalah seluruh pekerjaan."

Sampurasun, Jabar...

Baca Lainnya