Selasa, 7 Mei 2019 16:37

Melihat Semangat Syaefudin:Dari Musibah Hingga jadi Guru Ngaji Tunanetra di Kota Cimahi 

Reporter : Fery Bangkit 
Syaefudin guru ngaji para santri.
Syaefudin guru ngaji para santri. [ferybangkit]

Limawaktu.id - Alunan suara ayat suci Al-Quran terdengar sayup-sayup dari dalam Masjid Ruhul Qolbi di Sekolah Luar Biasa Negeri (SLBN) A, Jalan Sukarasa, Kelurahan Citeureup, Kecamatan Cimahi Utara, Kota Cimahi, Selasa (7/5/2019).

Rupanya suara itu berasal dari anak-anak Tunanetra yang tengah belajar ngaji. Ada sekitar 30 anak laki-laki dan perempuan yang tengah mengaji. keterbatasan nyatanya sama sekali tak mengurangi keindahan ketika mereka melantunkan surat Al-Waqiah siang tadi.

Tepat dibarisan Ikhwan atau laki-laki, ada seseorang yang mengenakan baju koko berwarna putih disertai kopiah hitam. Namanya Syaefudin. Pria asal Semarang berusia 51 tahun itu merupakan guru ngaji para santri di sana.

 Para Santri ikhwan sedang membaca Al-Quran braile

Ditangan Syaef, sapaannya, ada sebuah Al-Quran khusus penyandang disabilitas Tunanetra, yaitu Al-Quran braile. Meski dalam keterbatasan, ia tetap memiliki semangat tinggi untuk menularkan ilmu yang dimilikinya kepada anak-anak yang juga berkebutuhan khusus.

"Sebetulnya saya ini asli Semarang. Mengajar di sini baru tahun 2.000," ujar bapak tiga anak itu.

Singkat cerita, mimpi buruk Syaef itu terjadi tahun 1982 ketika usianya masih 14 tahun. saat itu, ia mengalami kebutaan setelah sebelumnya merasakan sakit pada mata. Kondisi itu membuatnya sangat terpuruk, seperti hilang harapan.

"Waktu itu saya masih Kelas II SMP. 2 (dua) tahun di rumah terpuruk," ucap anak ketiga dari 8 bersaudara itu.

Enggan terus terpuruk, ia kemudian melanjutkan sekolahnya di sebuah yayasan di Semarang. Motivasinya semakin bertambah ketika ia mendapat suntikan semangat dari sosok bernama Ahmad Dahlan.

Dari sanalah ia mulai mengumpulkan uang ketika menempa ilmu di Semarang ditahun 1984, "Dulu kalau Sabtu-Minggu keluarga suka nengokin, terus ngasih uang," ujar Syaef.

Kemudian, uang itu digunakannya untuk mencari sekolah. Setelah melakukan pencarian, ditemukanlah Sekolah Luar Biasa (SLB) di Ciamis. Sebab raportnya sudah tak ada, ditahun itu Syaef terpaksa harus mengulangi lagi dari Kelas I SMP.

Para Santri akhwat sedang membaca Al-Quran braile

"Waktu daftar di Ciamis itu usia saya masih 16 tahun," ujarnya.

Ditahun 1887, Syaef lulus sekolah menengah pertama. Kemudian dilanjut ke SMA, dan lulus tahun 1990. Setelah tuntas menempuh pendidikan di Cimahi, ia memutuskan hijrah ke Bandung tahun 1991.

Di Bandung, pria berjenggot itu mengikuti Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (Sipenmaru) di IKIP, yang sekarang berganti nama menjadi UPI. Ia mengambil Pendidikan Luar Biasa. 

Di Kota Bandung inilah, Syaefuin kembali bertemu dengan sosok Aan Suhana. Sosok itu lagi-lagi memberikan suntikan semangat kepadanya bahwa keterbatasan bukan berarti sebuah kiamat.

Dari sanalah ia semakin semangat untuk belajar, sebelum akhirnya lulus kuliah di IKIP tahun 1996. Berkat semangat dan kemampuannya dalam mengaji, Syaef akhirnya diangkat menjadi pengajar di SLBN A Kota Cimahi ditahun 2000.

"Alhamdulillah sampai sekarang masih mengajar di sini dan mulai intens ngajar anak-anak" katanya.

Soal adaptasi mengaji atau menghafal Al-Quran, lanjutnya, sebetulnya tidak ada kesulitan berarti. Apalagi, orang tua Syaef adalah seorang guru ngaji. Hanya saja, ketika diberikan musibah yaitu menjadi seorang Tunanetra, ia harus beradaptasi lagi. Sebab, cara membaca Al-Quran biasa dengan menggunakan braile itu butuh kemampuan lebih.

 Anak-anak Tunanetra yang tengah belajar ngaji.

"Alhamdulillah tidak begitu sulit," tandasnya.

Nu'man Tsabit, salah seorang murid Syaefudin mengakui bahwa sosok gurunya itu merupakan pribadi yang teladan. Bukan hanya mengajarkan, tapi juga mencontohkan.

"Beliau sangat teladan. Bukan hanya mengajar tapi mencontohkan. seperti solat jamaah, one day one juzz," ujarnya.

Baca Lainnya