Selasa, 11 September 2018 19:04

Yuk Intip Cara Warga Kampung Adat Cireundeu Gelar Upacara Tutup Tahun Sunda Saka

Reporter : Fery Bangkit 
 Peringatan tutup taun 1951 'Ngemban Taun 1 Sura 1952 Saka Sunda', Acara digelar di Bale Kampung Adat Cireundeu, Kelurahan Leuwigajah, Kecamatan Cimahi Selatan, Kota Cimahi, Selasa (11/9/2018).
Peringatan tutup taun 1951 'Ngemban Taun 1 Sura 1952 Saka Sunda', Acara digelar di Bale Kampung Adat Cireundeu, Kelurahan Leuwigajah, Kecamatan Cimahi Selatan, Kota Cimahi, Selasa (11/9/2018). [Fery Bangkit / Limawaktu]

Limawaktu.id - Lantunan musik tradisional kecapi dan suling membuka gelaran peringatan tutup taun 1951 'Ngemban Taun 1 Sura 1952 Saka Sunda'.

Peringatan yang bertepatan dengan 1 Muharam 1440 Hijriyah tersebut diikuti sesepuh Kampung Adat Cireundeu dan ratusan warga. Acara digelar di Bale Kampung Adat Cireundeu, Kelurahan Leuwigajah, Kecamatan Cimahi Selatan, Kota Cimahi, Selasa (11/9/2018).

Prosesi adat dibuka oleh salah seorang sesepuh adat yang memberikan wejangan, kemudian melakukan doa bersama agar tradisi di kampung adat tersebut tetap terjaga dan sebagai bentuk rasa syukur atas rezeki dari hasil pertanian yang setiap tahunnya berlimpah.

Warga yang mengikuti peringatan 1 Sura itu semuanya terlihat mengenakan pakaian adat dengan memakai kebaya putih untuk perempuan dan pangsi hitam untuk laki-laki. Mereka bersama para tamu undangan yang hadir larut dalam acara tersebut.

Setelah melakukan sungkeman, mereka melanjutkan dengan acara makan bersama dengan sajian makan utama Kampung Adat Cireundeu yakni nasi berbahan singkong. Kemudian sebagian warga melakukan ziarah ke makan leluhurnya.

Menurut salah seorang tokoh Kampung Adat Cireundeu, Abah Widi (56), peringatan tutup taun 1951 ngemban taun 1 Sura 1952 Saka Sunda tersebut karena masyarakat memiliki tujuan untuk menjaga dan melestarikan peninggalan sejarah Kampung Adat Cireundeu.

"Berarti warga harus ingat dengan sejarah karena yang namanya adat istiadat termasuk tradasi kasundaan khususnya disini dan umumnya di Jawa Barat harus tetap dijaga," ujarnya saat ditemui di Kampung Adat Cireundeu, Selasa (11/9/2018).

Terkait sungkeman yang dilakukan ratusan masyarakat terhadap para tokoh adat, menurutnya, sebagai bentuk memperlihatkan etika terhadap orang yang dianggap lebih tua.

Dalam sungkeman tersebut, mereka saling meminta maaf layaknya saat umat Islam merayakan idul fitri yang meminta terhadap keluarga maupun dengan orang lain.

"Mereka minta maaf kepada yang lebih tua dan orang yang dianggap dituakan juga pasti memaafkan karena dalam acara sakral seperti ini berbeda seperti mereka bertemu sehari hari," katanya.

Ketika acara sungkeman, ditengah Bale terdapat sesajian, seperti bunga, daun sereh, kelapa dan berbagai hasil pertanian, sehingga mereka mengelilingi sesajian tersebut.

Bunga yang terdapat pada sesajian itu, kata Abah Widi, sebagai simbol pewangi agar masyarakat dan Kampung Adat Cireundeu bisa harum. Dalam hal ini masyarakatnya diharapkan bisa mengharumkan nama bangsa khususnya Jawa Barat.

"Selain itu pada tahun saka sunda ini masyarakat diharapkan bisa saling mengingatkan terkait sejarah karena sejarah sampai kapanpun jangan sampai dilupakan," kata Abah Widi.

Untuk itu masyarakatnya diwajibkan untuk mengikuti acara peringatan tutup taun 1951 ngemban taun 1 Sura 1952 Saka Sunda tersebut lantaran kegiatan itu termasuk sejarah orang sunda.

"Sejak adanya Kampung Adat Cireundeu acara ini hingga sekarang, setiap tahun terus digelar karena kampung adat termasuk tatar sunda di Jawa Barat, berarti budayanya wajib untuk dijaga," katanya.

Baca Lainnya