Limawaktu.id, CIMAHI – Rencana Pemerintah Kota (Pemkot) Cimahi mengubah nama RSUD Cibabat menjadi RSUD Wijaya Mulya menuai tanggapan dari kalangan legislatif. Wakil Ketua DPRD Kota Cimahi, Agung Yudaswara, mengaku belum pernah menerima informasi maupun pembahasan resmi terkait rencana perubahan nama rumah sakit milik pemerintah daerah tersebut.
Agung mengatakan, hingga saat ini DPRD tidak pernah mendapatkan penjelasan mengenai alasan maupun urgensi pergantian nama RSUD Cibabat menjadi RSUD Wijaya Mulya.
"Kami tidak pernah diinfokan oleh Pemkot terkait rencana perubahan nama RSUD Cibabat menjadi RSUD Wijaya Mulya. Dari rencana perubahan nama saja kami tidak tahu, termasuk makna dan alasan perubahan nama tersebut apa," ujar Agung, dalam siaran pers yang diterima Limawaktu.id, Selasa, 12 Juli 2026 malam.
Menurutnya, nama RSUD Cibabat selama ini telah melekat sebagai identitas rumah sakit pemerintah di Kota Cimahi. Selain mengacu pada lokasi rumah sakit yang berada di Kelurahan Cibabat, nama tersebut juga telah dikenal luas oleh masyarakat, baik warga Cimahi maupun daerah lain.
"Sebetulnya dengan nama RSUD Cibabat, maknanya jelas karena rumah sakit itu berada di Cimahi dan menggunakan nama wilayah tempat rumah sakit berdiri. Itu menjadi bagian dari identitas Kota Cimahi. Semua orang ketika mendengar nama RSUD Cibabat langsung tahu bahwa itu rumah sakit milik Pemerintah Kota Cimahi," katanya.
Agung menilai, apabila nama tersebut diubah, maka identitas lokal yang selama ini melekat dikhawatirkan akan berkurang. Karena itu, ia mempertanyakan manfaat konkret yang akan diperoleh masyarakat maupun rumah sakit dari kebijakan tersebut.
"Saya tidak tahu urgensinya perubahan nama rumah sakit ini. Apa manfaatnya bagi rumah sakit maupun masyarakat nantinya? Itu yang perlu dijelaskan kepada publik," tegasnya.
Meski demikian, Agung menegaskan bahwa persoalan nama bukanlah hal utama. Menurutnya, masyarakat jauh lebih membutuhkan peningkatan kualitas pelayanan kesehatan dibanding sekadar perubahan identitas rumah sakit.
"Apapun namanya, yang lebih penting adalah pelayanan yang baik dan memuaskan kepada masyarakat serta fasilitas kesehatan yang semakin memadai," ujarnya.
Ia menambahkan, RSUD Cibabat merupakan salah satu wajah pelayanan publik Pemerintah Kota Cimahi di sektor kesehatan. Oleh karena itu, peningkatan mutu layanan, profesionalisme tenaga kesehatan, serta kelengkapan fasilitas harus menjadi prioritas utama.
"Selain menjadi sumber pendapatan daerah, RSUD juga menjadi tolok ukur keberhasilan pemerintah dalam memberikan pelayanan kesehatan. Penilaian masyarakat terhadap pemerintah salah satunya tercermin dari kualitas layanan rumah sakit daerah," pungkasnya.
Diberitakan Limawaktu.id sebelumnya, Pemerintah Kota Cimahi memulai langkah besar dalam transformasi layanan kesehatan dengan melakukan rebranding RSUD Cibabat menjadi RSUD Wijaya Mulya. Perubahan ini ditegaskan bukan sekadar pergantian nama dan identitas visual, melainkan transformasi menyeluruh yang berorientasi pada peningkatan kualitas pelayanan, budaya kerja, serta pengalaman pasien.
Komitmen tersebut disampaikan dalam Sosialisasi Hasil Kajian Rebranding RSUD Cibabat Kota Cimahi yang berlangsung di RSUD Cibabat. Kegiatan ini sekaligus menandai selesainya proses kajian rebranding yang disusun bersama PT MarkPlus Indonesia dan menjadi titik awal perjalanan rumah sakit milik Pemerintah Kota Cimahi dengan identitas baru sebagai RSUD Wijaya Mulya.
Wali Kota Cimahi Ngatiyana menegaskan bahwa rumah sakit modern tidak lagi cukup dipandang sebagai tempat mengobati penyakit. Menurutnya, rumah sakit harus berkembang menjadi pusat pelayanan kesehatan yang menghadirkan rasa aman, membangun harapan, sekaligus mendorong masyarakat menjalani pola hidup sehat melalui layanan promotif dan preventif.
"Kalau rebranding hanya berhenti pada pergantian nama, tentu tidak akan memberikan nilai tambah. Yang kita bangun adalah transformasi menyeluruh, mulai dari citra, budaya pelayanan, hingga kualitas layanan kesehatan yang benar-benar dirasakan masyarakat," ujar Ngatiyana, Selasa, 21 Juli 2026.
Ia menilai selama ini rumah sakit masih identik dengan rasa sakit, ketakutan, dan kecemasan. Paradigma tersebut, kata dia, harus diubah agar rumah sakit menjadi tempat yang nyaman untuk berkonsultasi, memperoleh edukasi kesehatan, hingga melakukan pencegahan penyakit sebelum kondisinya semakin berat.