Kamis, 22 Agustus 2019 13:18

Wilayah di KBB ini Dijuluki Kampung Awug

Reporter : Fery Bangkit 
Awug merupakan makanan khas Sunda
Awug merupakan makanan khas Sunda [Fery Bangkit]

Limawaktu.id - Sudah cukup lama Kampung Pasirkihiyang RT 04/04, Desa Mekarsari, Ngamprah, Kabupaten Bandung Barat (KBB) mendapat julukan sebagai Kampung Awug. Ya, julukan itu diberikan sebab banyak masyarakat di daerah yang berdekatan dengan Kompleks Perkantoran Pemkab Bandung Barat itu berprofesi sebagai pembuat dan pedagang awug.

Awug merupakan makanan khas Sunda yang terbuat dari campuran beras ketan, kelapa dan gula aren.Aktifitas membuat awug di Kampung Pasirkihayang dimulai sejak pukul 03.00 WIB. Mereka menyiapkan adonan beras ketan dan kelapa, kemudian memasukkan adonan tersebut ke dalam congcot untuk dikukus kemudian.

Sebelum matahari terbit, awug yang telah dikukus kemudian dibungkus ke dalam wadah-wadah kecil. Lalu dijual ke berbagai wilayah di wilayah Bandung Raya. Edah (52), salah seorang perintis Kampung Awug mengatakan, aktivitas itu telah berlangsung sejak 26 tahun yang lalu. Inspirasinya adalah seorang nenek bernama Mak Ijoh. Saat itu ia berpikir, orang renta usia saja bisa produktif.

"Kenapa saya tidak bisa. Lalu saya termotivasi dari Mak Ijoh, beliau dan dua sepuh lainnya yang pertama kali membuat awug di sini, sekarang Mak Ijoh sudah meninggal," kata Edah saat ditemui di kediamannya, Kamis (22/9/2019).

Ia mengaku butuh waktu satu tahun untuk mendapatkan rasa dan tekstur awug yang sempurna. Awug ciptaan Edah pun akhirnya menyebarluas dari mulut ke mulut. "Kemudian saya jual ke Bandung, ternyata cukup menghasilkan. Sampai akhirnya awug kami bisa digunakan di acara Polda Jabar, Pemkot Bandung maupun Pemkab Bandung Barat," ujar Edah.

Dari sana, ujar Edah, tetangganya mulai mengikuti usaha yang dilakukannya. Ia pun tak segan untuk berbagi ilmu dengan mereka. "Saat ini lebih dari 20 rumah yang dijadikan home industry awug di kampung ini, orang yang tidak membuat awug pun sering datang untuk menjual kembali," bebernya.

Dalam sehari, rata-rata produsen awug di Kampung Pasirkihiyang bisa membuat lima kilogram adonan awug. Mereka menjualnya dengan harga yang bervariatif, tergantung ukuran dan bahan yang digunakan. "Ada yang memakai gula aren, gula kelapa dan gula curah. Paling bagus pakai gula aren, selain itu juga beda tangan, beda rasa awugnya," ucapnya.

Sepintas tak ada penanda khusus adanya Kampung Awug di Pasirkihiyang. Yang ada hanyalah sebuah monumen berbentuk awug yang nyaris tak terperhatikan karena bentuknya yang kecil. "Memang tak ada plang atau tanda apapun, orang-orang memang banyak yang enggak ngeh, tapi kalau lewat sini pasti tercium wangi kukusan kelapa," katanya.

Baca Lainnya

Topik Populer

Berita Populer