Selasa, 30 Juni 2020 9:01

Warga Cilame Terpaksa Ngontrak Gara-gara Proyek Kereta Cepat

Reporter : Fery Bangkit 
 pembangunan trayek Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB) menutup akses jalan di Kampung Simpati RT 0305, Desa Cilame.
pembangunan trayek Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB) menutup akses jalan di Kampung Simpati RT 0305, Desa Cilame. [Foto istimewa]

Bandung Barat - Pengeboran tanah untuk tiang pancang dalam rangka pembangunan trayek Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB) menutup akses jalan di Kampung Simpati RT 03/05, Desa Cilame, Kabupaten Bandung Barat (KBB).

Kondisi itupun tak ayal menuai protes pemilik rumah di daerah tersebut. Pengeboran dimulai sejak Januari 2020, dan sejak saat itulah akses menuju rumahnya menjadi tertutup.

"Proyek tersebut membuat kami lumpuh beraktivitas tidak bisa masuk dan keluar rumah karena akses jalan satu-satunya tertutup," kata Eka Suryana (45), Senin (29/6/2020).

Selain menutup akses jalan, proyek tersebut ternyata membuat retaknya dinding rumah miliknya. Titik pengeboran dengan rumah milik Eka hanya berjarak sekitar 10 meter. Setiap kali ada pengeboran, getaran selalu terasa hingga menyebabkan sejumlah dinding rumahnya mengalami retak. Tak jarang, banjir lumpur selalu melanda depan rumahnya saat hujan tiba.

"Air PDAM sudah tidak mengalir karena pipa rusak, dinding retak-retak, genting pada jatuh karena getaran. Saat hujan, otomatis bocor semua," ujarnya.

Atas kondisi tersebut, Eka mengaku memilih untuk mengungsi dengan cara mengontrak rumah ke lokasi yang lebih aman dan mudah diakses. Pasalnya, setiap dia mengadukan kondisi rumahnya kepada pelaksana proyek, selalu tak ditanggapi.

"Kami terpaksa mengungsi dan mengontrak rumah dikarenakan rumah yang kami pakai untuk bernaung mati total. Saya harap perusahaan bisa segera turun tangan dan mengembalikan kondisi rumah seperti sediakala," ungkapnya.

Terpisah, Ketua RW setempat Ondi Mangkubumi mengatakan, terdapat dua rumah yang tertutup akses jalan tersebut. Dua rumah itu menurutnya sudah sejak beberapa waktu lalu tidak dihuni pemiliknya.

"Memang jalannya bukan jalan umum. Di situ ada dua rumah. Dua-duanya sekarang kosong tapi yang satu dikontrakin untuk pekerja proyek," ungkapnya.

Ondi menyebutkan, pihaknya sudah menerima keluhan dari pemilik rumah yang tertutup aksesnya. Dia memastikan, keluhan itu akan disampaikan kepada pihak PT KCIC. "Akses jalan akan dibuka kembali kalau pengerjaan sudah selesai. Ini hanya tertutup sementara," ucapnya.

Sementara itu, Manager PR dan CSR PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) Deni Yusdiana mengatakan, dirinya belum mendapat laporan terkait tertutupnya akses jalan.

"Saat ini kami sedang melakukan investigasi. Kami perlu pastikan, karena saat ini sedang dalam pengecekan," kata Deni.

Baca Lainnya