Jumat, 17 Januari 2020 12:52

Waktu Mepet, 170 Suami-Istri di Bandung Barat Gagal Isbat Nikah Gratis

Prosesi sidang Isbat nikah Gratis
Prosesi sidang Isbat nikah Gratis [Fery Bangkit]

Limawaktu.id - Program sidang isbat nikah gratis bagi pasangan suami istri di Kabupaten Bandung Barat (KBB) hanya terealisasi 230 pasangan, dari total 400 pasangan yang diikutsertakan tahun 2019.

Artinya, ada 170 pasangan suami istri yang gagal melaksanakan sidang Isbat nikah yang dibiayai Pemkab Bandung Barat itu. Sebagian dari mereka sudah puluhan tahun membina rumah tangga, namun belum memiliki buku nikah.

Kepala Bagian Kesejahteraan Rakyat (Kesra) pada Setda KBB, Asep Hidayatulloh mengatakan, dana yang disediakan dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) untuk program sidang isbat gratis tahun 2018 mencapai Rp 1 miliar yang disediakan saat APBD perubahan.

"Anggarannya telah kita siapkan Rp 1 miliar untuk membiayai sidang keliling Isbat nikah 400 pasangan suami istri.  Namun karena waktunya yang mepet, sehingga tidak semua kuota terpenuhi,"  kata Asep di Ngamprah, Jumat (17/1/2020).

Ia mengakui, baru pertama kali Pemkab Bandung Barat membuat program  sidang Isbat nikah gratis. Program tersebut ditujukan pada pasangan suami istri kategori tidak mampu dan baru melaksanakan nikah secara agama sehingga belum memiliki buku nikah.

"Ternyata proses sidang Isbat itu tidak sederhana dan membutuhkan waktu, dimulai dari pendaftaran ke Pengadilan Agama. Kemudian harus menunggu sampai sebulan untuk jadwal sidang Isbat," paparnya.

Sebab waktunya yang terbatas akhirnya dari kuota 400 pasangan baru terealisasi 230 pasangan yang berasal dari Kecamatan Saguling, Batujajar. Rongga, Cipongkor, dan Sindangkerta.

"Pelaksanaan sidang Isbat bagi pasangan suami istri yang ikut sidang Isbat dari Kecamatan Batujajar dan Saguling mengambil tempat di Saguling. Sedangkan warga Sindangkerta lokasinya di Sindangkerta," tuturnya.

Ia menambahkan,  sisa kuota yang tidak terealisasi  dimasukan dalam APBD 2020. "Kalau di anggaran murni waktunya lebih leluasa, jadi sisa tahun kemarin bisa dilaksanakan tahun ini," ucapnya.

Pasangan suami istri yang mengikuti sidang Isbat atas usulan Kantor Urusan Agama (KUA) setiap kecamatan.Kriterianya berasal dari keluarga tidak mampu. Pasangan suami istri yang sudah melaksanakan sidang Isbat nikah tertua berusia 60 tahun. Sudah membina rumah tangga puluhan tahun dan sudah memiliki cucu.

"Sebenarnya mereka ingin menikah sesuai dengan apa yang diatur oleh negara. Tapi karena keterbatasan ekonomi,  mereka akhirnya baru melaksanakan pernikahan secara agama," kata Asep.

Mereka juga sebenarnya menyadari betul, bahwa buku nikah sangat penting.  Terutama buat pengurusan administrasi kependudukan, seperti pembuatan akta kelahiran  anak, surat ahli waris, pengurusan BPJS dan lainnya. 

Baca Lainnya