Limawaktu.id, Kota Bandung - Pemerintah mulai mempercepat pengosongan Terminal Cicaheum seiring rencana besar menjadikan kawasan tersebut sebagai pusat operasional Bus Rapid Transit (BRT) Kota Bandung. Hingga Kamis (28/5/2026), sekitar 80 persen armada bus angkutan kota antarprovinsi (AKAP) dan angkutan kota dalam provinsi (AKDP) telah dipindahkan ke Terminal Leuwipanjang.
Percepatan relokasi itu menandai dimulainya transformasi sistem transportasi publik Kota Bandung yang selama ini dinilai semrawut dan terpusat di beberapa titik terminal lama.
Kepala Terminal Leuwipanjang, Asep Hidayat mengatakan, sejauh ini sebanyak 60 unit bus dari berbagai perusahaan otobus (PO) telah resmi beroperasi dari Terminal Leuwipanjang.
“Bus yang masuk sudah ada 60 unit karena saat ini masih ada yang berangkat dari Terminal Cicaheum,” kata Asep saat ditemui di Terminal Leuwipanjang, dikutip IDN Times Jabar, Kamis, 28 Mei 2026.
Menurut dia, sosialisasi perpindahan trayek sebenarnya sudah dilakukan kepada seluruh operator sejak 25 Mei 2026. Namun, masih ada sekitar 20 persen armada yang sementara tetap melayani penumpang dari Terminal Cicaheum sebelum proses penutupan dilakukan sepenuhnya.
“Dalam rangka Terminal Cicaheum rencana akan segera ditutup, sebenarnya edarannya sudah tersosialisasi ke PO masing-masing,” ujarnya.
Sejumlah operator bus besar kini telah memusatkan keberangkatan di Terminal Leuwipanjang. Di antaranya PO Budiman untuk trayek Pangandaran, Tasikmalaya hingga Wonosobo, PO Gunung Harta rute Bandung-Bali, serta PO Eka dan Sugeng Rahayu tujuan Surabaya.
Selain itu, operator lain seperti PO Kalingga, KYM Trans, 27 Trans dan Bandung Express juga mulai mengalihkan seluruh operasional keberangkatan ke Terminal Leuwipanjang.
Pemindahan ini tidak hanya soal perpindahan lokasi terminal, tetapi juga bagian dari pengaturan ulang arus transportasi antarkota. Nantinya bus-bus dari Terminal Leuwipanjang diarahkan langsung masuk ke Jalan Tol Mohammad Toha guna mempercepat mobilitas menuju jalur selatan Jawa Barat, Jawa Tengah hingga Jawa Timur.
“Di sini tetap kami buka layanan biarpun masih ada sebagian atau sekitar 20 persen bus berangkat dari Terminal Cicaheum,” kata Asep.
Mengantisipasi lonjakan aktivitas pasca-relokasi, pengelola terminal mulai melakukan penataan jalur keberangkatan dan pengaturan headway antararmada. Langkah itu dilakukan agar tidak terjadi penumpukan bus di area terminal.
“Kami siapkan jalur keberangkatan, kami atur headway. Jadi bus yang belum waktunya berangkat tidak berdiam di Terminal Leuwipanjang,” ujarnya.
Selain itu, bus-bus eks Terminal Cicaheum yang belum memiliki jadwal keberangkatan diwajibkan menunggu di pool masing-masing untuk menghindari kepadatan dengan armada eksisting di Terminal Leuwipanjang.
Transformasi Terminal Cicaheum menjadi hub BRT diproyeksikan menjadi salah satu proyek strategis transportasi Kota Bandung. Pemerintah berharap integrasi layanan transportasi massal itu mampu mengurangi kemacetan kronis sekaligus mendorong masyarakat beralih dari kendaraan pribadi ke angkutan umum.