Kamis, 18 Oktober 2018 12:47

Teriakan 'Mak Lampir' Warnai Sidang Praperadilan Dugaan Pelecehan Pancasila di PN Bandung

Reporter : Fery Bangkit 
Sidang praperadilan dengan agenda kesaksian saksi pelapor Sukmawati Soekarnoputri Putri di Pengadilan Negeri (PN) Kelas 1A Khusus Bandung, Kamis (18/10/2018) berakhir gaduh dengan cacian terhadap Sukamawati. 
Sidang praperadilan dengan agenda kesaksian saksi pelapor Sukmawati Soekarnoputri Putri di Pengadilan Negeri (PN) Kelas 1A Khusus Bandung, Kamis (18/10/2018) berakhir gaduh dengan cacian terhadap Sukamawati.  [Fery Bangkit/Limawaktu]

Limawaktu.id, Bandung - Sidang praperadilan dengan agenda kesaksian saksi pelapor Sukmawati Soekarnoputri Putri di Pengadilan Negeri (PN) Kelas 1A Khusus Bandung, Kamis (18/10/2018) berakhir gaduh dengan cacian terhadap Sukamawati. 

Berdasar pantauan, kericuhan dan kegaduhan berawal saat Sukmawati memasuki dan keluar ruang persidangan. Bahkan, pengunjung sidang yang didominasi masa Front Pembela Islam (FPI) sampai menyebut Sukmawati dengan sebutan 'Mak Lampir'.

Baca Juga : Hakim Tolak Permhononan Intervensi Dugaan Kasus Penistaan Pancasila

"Mak lampir, mana konde," teriak segelintir massa FPI dan langsung ditenangkan oleh hakim tunggal M Razad. 

Tidak hanya itu, saat masuk ke ruangan persidangan massa juga menyebut meneriaki Sukmawati dengan sebutan busuk. Dalam sidang pra peradilan itu selain mengagendakan pemeriksaan saksi fakta, juga dihadirkan saksi ahli yang menerangkan soal pra peradilan ditinjau dari sudut pandang hukum acara pidana. 

Baca Juga : Sukmawati Soekarno Putri Dijadwalkan Hadir di Sidang Praperadilan Kasus Dugaan Penistaan Pancasila

Usai sidang, Sukmawati mengaku tergangg‎u dengan pengunjung yang tidak menghormati dan menghargai  persidangan. "Persidangan sangat terganggu dengan suara-suara tidak sopan. Harusnya mereka menghormati persidangan," katanya.

Sukmawati mengaku memiliki alasan penting kenapa harus mempraperadilankan SP3 itu dan berharap penyidikan kasus dilanjutkan. Padahal sebelumnya, di Polda penyidik sudah menetapkan Rizieq Shihab sebagai tersangka dalam kasus penistaan Pancasila dan bapak Proklamator RI, Soekarno. 

"Kasus ini sangat penting dilanjutkan karena pelecehan, penistaan, penghinaan terutama terhadap Presiden RI Soekarno, pejuang, pahlawan, proklamator Indonesia. Juga kepada dasar negara kita, Pancasila. Bahwa kita generasi yang hidup di zaman ini, tidak boleh durhaka terhadap pendiri republik ini," ujarnya.

Baca Lainnya