Rabu, 16 Januari 2019 16:10

Tanda Tangan Izin Meikarta Berhadiah Uang

Reporter : Fery Bangkit 
Persidangan dugaan kasus suap perizinan mega proyek Meikarta, di Pengadilan Tipikor pada PN Klas 1A Khusus Bandung, Jalan RE Martadinata, Rabu (16/1/2019).
Persidangan dugaan kasus suap perizinan mega proyek Meikarta, di Pengadilan Tipikor pada PN Klas 1A Khusus Bandung, Jalan RE Martadinata, Rabu (16/1/2019). [Fery Bangkit/Limawaktu]

Limawaktu.id - Fakta-fakta baru kembali terungkap dalam persidangan dugaan kasus suap perizinan mega proyek Meikarta, di Pengadilan Tipikor pada PN Klas 1A Khusus Bandung, Jalan RE Martadinata, Rabu (16/1/2019).

Sidang dengan agenda kesaksian atas terdakwa Billy Sindoro menghadirkan lima orang saksi. Kelimanya merupakan orang dekat Bupati Bekasi nonaktif Neneng Hasanah Yasin">Neneng Hasanah Yasin, mulai dari sopir, ajudan hingga sekretaris pribadi (Sekpri). 

Baca Juga : Ada 87 Saksi, Sidang Kasus Meikarta Bakal Dikebut

Kelimanya adalah Acep Abdi Eka (ajudan), Agus Salim (Sekpri), Asep Effendi (sopir pribadi), Kusnadi Hendra staf analisis Dinas Penanaman Modal dan Perizinan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Bekasi, dan Marfuah Afan (Sekpri).

Agus Salim, salah seorang saksi mengaku pernah menyerahkan draf Izin Pemanfaatan dan Penggunaan Tanah (IPPT) proyek Meikarta dari DPMPTSP ke Bupati Bekasi non aktif, Neneng Hasanah Yasin di rumah dinasnya. Setelah berkas ditandatangani, kemudian ia menerima titipan sebuah koper untuk diberikan ke ibu (Neneng) dari Yusuf Taufik (staf di Bappeda Bekasi perantara Meikarta). 

Baca Juga : Aliran Duit Proyek Meikarta Dicicipi Wakil Rakyat Kabupaten Bekasi ?

"Kemudian di 2018, Yusuf Taufik kembali menitipkan sebuah tas ransel hitam untuk diserahkan ke ibu," kata Agus.

Kemudian, lanjutnya, Neneng memberikan uang Rp 100 juta kepada Taufik. Tidak hanya itu, Neneng pun kembali membagi-bagikan uang kepada beberapa orang kepala dinas. Di antaranya ke eks Kepala DPMPTSP, Cakrawinda Rp 100 juta, Kabid di DPMTSP Deni Rp 100 juta, dan ke Kabid Tata Ruang Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Neneng Rahmi senilai Rp 200 juta.
 
Selama menjadi ajudannya, Agus hanya dua kali menerima titipan barang dari Yusuf Taufik (terkait izin IPPT), yakni pada akhir 2017 berupa koper, dan awal 2018 dalam bentuk tas ransel, yang belakangan diketahui semuanya adalah uang. 

Baca Juga : Wow, Komitmen Fee Dugaan Suap Meikarta Capai Rp 20 M

Hal yang sama juga diungkapkan mantan ajudan Neneng lainnya, yakni Acep Abdi Eka. Namun, Acep mengaku hanya menerima titipan yang disampaikan oleh kepala dinas, yakni dari Dewi Tisnawati Kepala DPMPTSP, dan Kepala Damkar Sahat Banjarnahor. 

"Titipan dari Bu Dewi dan Pak Sahat berupa papperbag, mereka tak menjelaskan isinya. Hanya titipan untuk Ibu," katanya. 

Sementara itu sopir pribadi Neneng, Asep Effendi mengaku pernah mengantarkan surat dari Neneng untuk diserahkan kepada Yusuf Taufik. Setelah surat itu diberikan, Yusuf pun langsung menitipkan bungkusan berupa amplop besar bertali dan distaples. 
Hingga kini sidang kesaksian kasus dugaan suap proyek meikarta masih terus berlanjut. 

Baca Lainnya