Senin, 8 April 2019 19:09

Takut Dibully, Mantan Kalapas Sukamiskin Ajukan Ditahan di Kebonwaru

Reporter : Iman
Sidang Putusan Kasus Gratifikasi Di Pengadilan Tipikor PN Bandung, Jalan RE Martadinata, Senin (8/2/2019).
Sidang Putusan Kasus Gratifikasi Di Pengadilan Tipikor PN Bandung, Jalan RE Martadinata, Senin (8/2/2019). [ferybangkit]

Limawaktu.id - Mantan Kalapas Sukamiskin Bandung, Wahid Husein mengajukan agar dirinya ditahan di Rutan Kebonwaru, bukan di Lapas khusus korupsi yakni Sukamiskin. 

Hal itu disampaikan penasihat hukum Wahid Husein, Firmauli Silalahi usai sidang vonis di PN Tipikor Bandung, Senin (8/4/2018). Dikatakan Dirman, Jika ditahan di Sukamiskin, Firma khawatir Wahid dibully.

Baca Juga : Wahid Husein, Dulu Kepala Kalapas Sikamiskin, Sekarang Terancam jadi Penghuni Lapas 9 Tahun Bui

Firma mengaku pemohonan untuk penahanan Wahid Husein di Kebonwaru dan bukan di Sukamiskin sebagai lapas khusus napi korupsi bukan tanpa alasan. Karena Wahid Husein mantan pimpinan di Lapas Sukamiskin.

"Kita pertimbangkan faktor psikologisnya. Sangat kurang tepat, karena Pak Haji (Wahid) di situ kan mantan pimpinan, nanti dia dibully kan gak bagus," katanya. 

Baca Juga : Kali Kedua Suami Inneke dapat Vonis Hakim, Kali ini Tiga Tahun

Selain faktor kejiwaan yang tidak bagus bagi Wahid Husein, lanjutnya, penahanan di Lapas Sukamiskin juga bakal berdampak terhadap psikologis keluarganya. 

"Kemudian untuk anak-anaknya kalau dulu datang ke sana kan bapaknya bos di situ, di ruang pimpinan. Sekarang kan datang ke situ berkunjung, bapaknya sudah berubah jadi di penjara," katanya.

Baca Juga : Eks Kalapas Sukamiskin 'Tepok Jidat' Divonis 8 Tahun

Soal vonis hakim, Firmauli menilai, vonis yang diberikan majelis tidak berdasar atas azas keadilan, dan itu sangat tinggi. Terlebih soal pendirian saung-saung di Lapas Sukamiskin sudah ada jauh sebelum kliennya menjabat sebagai Kalapas Sukamiskin. 

"Saung itu sudah ada sebelum dia (Wahid) ke Sukamiskin. Kok jadi dia yang menanggung semua. Apa sih yang dia perbuat sampai segitunya," katanya.

Firmauli mengaku tetap menghormati sikap kliennya yang mengambil sikap pikir-pikir atas putusan majelis. 

"Apalagi izin-izin sakit dan izin luar biasa itu sudah lama. Menurut saya ini terlalu tinggi (vonis), dan tidak berkeadilan," tandasnya.

Baca Lainnya