Kamis, 9 April 2020 11:33

Sopir Angkot di Cimahi Bakal Terima Bantuan, Omset Angkot di KBB Terjun Bebas

foto istimewa Angkutan Umum
foto istimewa Angkutan Umum [Fery Bangkit]

Limawaktu.id - Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Cimahi menyebutkan, setidaknya ada sekitar 500 sopir angkutan umum atau angkot di Kota Cimahi yang terdata bakal menerima bantuan Jaringan Pengamanan Sosial.

Bantuan Jaringan Sosial diperuntukan bagi warga yang terdampak ekonominya akibat pandemi Corona Virus Disease (Covid-19), seperti sopir angkot yang jelas terdampak akibat adanya virus tersebut. Sebab, dengan anjuran stay at home, work from home hingga penghentian aktifitas sekolah formal sangat berdampak terhadap penghasilan mereka.

Kepala Seksi Angkutan pada Dishub Kota Cimahi, Ranto Sitanggang mengatakan, data sopir angkot calon penerima bantuan itu terlebih dulu akan diverifikasi oleh RT, RW dan Dinas Sosial Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DinsosP2KBP3A) Kota Cimahi.

"Para pekerja yang terdampak secara ekonomi ini salah satunya adalah sopir angkot. Ada sekitar 500 sopir yang didata untuk menerima bantuan," ujar Kepala Seksi Angkutan Dishub Kota Cimahi, Kamis (9/4/2020).

Berdasarkan data dari Dinas Perhubungan Kota Cimahi, ada sekitar 403 unit angkot dari seluruh trayek lokal di Cimahi. Dari jumlah tersebut, kendaraan yang aktif di 4 trayek lokal sebanyak 303 unit. Selama COVID-19, hanya setengahnya saja yang masih beroperasi.

"Saat ini hanya setengahnya saja yang beroperasi, sekitar 100 sampai 150 unit saja. Sisanya lebih memilih untuk stop operasi karena memang sepi penumpang,"

Kondisi sepi penumpang tersebut sontak membuat para pengusaha dan sopirnya menjerit. Mereka tak lagi bisa mendapatkan pemasukan lantaran tidak beroperasi. Apalagi,  penumpang angkot di Kota Cimahi selama ini didominasi oleh pelajar.

"Penurunan penumpang angkot sangat signifikan, hampir mencapai 60 persen," ucapnya.

Meskipun masih boleh beroperasi, para sopir angkot diimbau untuk menerapkan pola hidup bersih dan membersihkan juga kendaraannya setiap hari.

"Mereka masih diperbolehkan operasional tapi diingatkan selalu membersihkan kendaraan dengan penyemprotan disinfektan, menyiapkan hand sanitizer, dan membuat penumpang agar berjarak di dalam kendaraan," imbuhnya.

Hal serupa juga menimpa angkot di Kabupaten Bandung Barat (KBB). Seperti yang dialami Ukri, supir angkot jurusan Lembang-Stasiun Hall Bandung ini mengaku pendapatannya turun drastis hingga 80 persen pasca mewabahnya korona.

"Sekarang hanya dapat uang antara Rp10-20 ribu sehari. Sebelumnya, saya biasa membawa pulang uang hingga Rp100 ribu," kata Ukri.

Ukri terpaksa masih turun ke jalan karena tidak punya pekerjaan lain selain menarik angkot. "Teman-teman yang lain sudah stop narik karena minim pendapatan. Kalau saya masih jalan, walaupun penumpangnya sangat sepi," ujarnya.

Kepala Bidang Teknik dan Prasarana pada Dinas Perhubungan Bandung Barat, Fauzan menerangkan, saat ini operasional angkot masih berjalan seperti biasa namun jumlahnya jauh berkurang seiring adanya pembatasan aktivitas masyarakat.

"Pada saat ini operasional angkot sudah berkurang dengan sendirinya mengingat aktivitas masyarakat juga sudah berkurang," terang Fauzan.

Fauzan menyebut, penurunan operasional angkot di Bandung Barat mencapai 50 persen yang berasal dari berbagai trayek.

"Total angkot di kita mencapai diatas 3.000 unit kendaraan, dampak wabah korona, ada sekitar 1500 angkot yang berhenti beroperasi," bebernya.

Baca Lainnya