Rabu, 4 April 2018 17:56

Solihin: Jika Dikelola Baik, Urbanisasi Bisa Jadi Modal Pembangunan

Reporter : Jumadi Kusuma
Acara Antisipasi Dampak uUbanisasi Terhadap Kehidupan Sosial Budaya Masyarakat Perdesaan dan Perkotaan Dalam Rangka Ketahanan Nasional, di Tropicana Hotel, Rabu (4/4/2018).
Acara Antisipasi Dampak uUbanisasi Terhadap Kehidupan Sosial Budaya Masyarakat Perdesaan dan Perkotaan Dalam Rangka Ketahanan Nasional, di Tropicana Hotel, Rabu (4/4/2018). [Limawaktu]

Limawaktu.id,- urbanisasi selalu berkaitan dengan permasalah ekonomi dan lapangan pekerjaan. Tak terbantahkan, wilayah sekitar metropolitan seolah menjadi magnet yang kuat menarik warga daerah mencari peruntungan.

Faktanya di kota Bandung dan kota sekitarnya bertebaran pusat-pusat kegiatan ekonomi, termasuk konsentrasi kawasan industri. Adalah hal yang jamak ketika warga yang merasa daerahnya tidak memberi jaminan kemudian memilih berpindah untuk berikhtiar mencari nafkah.

Penjabat Sementara Wali Kota Bandung, Muhamad Solihin menyebut, laju urbanisasi di Kota Bandung mungkin paling tinggi. Dengan pusat Pendidikan yang terkemuka, membuat para pendatang menjadi pilhan utama untuk melancong ke kota kembang ini.

“Pasti laju urbanisasi Kota Bandung paling tinggi, beberapa pusat Pendidikan ada di Bandung, beberapa industri pun ada di sini,” katanya pada acara Antisipasi Dampak uUbanisasi Terhadap Kehidupan Sosial Budaya Masyarakat Perdesaan dan Perkotaan Dalam Rangka Ketahanan Nasional, di Tropicana Hotel, Rabu (4/4/2018).

Menurutnya, fenomena tersebut diperkirakan akan terus meningkat. Untuk menghadapi hal tersebut, urbanisasi bisa menjadi modal bagi Kota Bandung jika dikelola dengan baik. Nilai gotong royong sebagai sebuah model pembangunan melalui pola kolaborasi merupakan bukti proses urbanisasi mampu menjadi modal pembangunan.

“SIkap silih asah, silih asih dan silih asuh menjadi nilai bahwa masyarakat Kota Bandung tetap mampu di jaga dan tercermin dalam kehidupan,” ujar Solihin.

Solihin menegaskan, Kota Bandung harus menjadi kota terbuka. Pendidikan, transaksi perdagangan maupun wisata ada semuanya di Kota Bandung. Maka dari itu, untuk menjaga stabilitasnya harus bekerjasama dengan pemerintah pusat, pemerintah provinsi dan pemerintah daerah agar urbanisasi ini menjadi hal yang positif.

“Bandung itu sebagai etalase Jawa Barat, semua kebutuhan hampir ada di Bandung, maka saya berpesan kepada masyarakat tetap menjaga stabilitas keamanan, nilai sosial budaya yang berlaku di tanah Sunda khususunya Kota Bandung,” pinta solihin.

Sementara itu, Tenaga Ahli Pengkaji Bidang Sosial Budaya Lemhannas RI, Sudaryono mengatakan, penyebab utama urbanisasi seperti sulit mencari pekerjaan yang berdampak kepada penduduk di perkotaan.

"Hingga saat ini salah satu penyebab utama urbanisasi yaitu lapangan pekerjaan. Dampak ini memberikan pengaruh sosial kepada penduduk perkotaan," jelasnya.

Ia berharap, pemerintah mampu membuat program dan strategi jitu agar urbanisasi bisa dipecahkan.

"Contohnya ya pembangunan di pedesaan yang harus ditingkatkan, sehingga masyarakat di sana tidak melancong ke kota," tuturnya.

Baca Lainnya