Limawaktu.id, Kota Bandung – Kepala SMK Pasundan 2 Bandung, Umar Khattob, menegaskan bahwa pendidikan tidak hanya bertujuan mencetak siswa yang cerdas secara akademik, tetapi juga membangun kebiasaan baik, reputasi, serta karakter yang kuat. Menurutnya, keberhasilan seseorang tidak boleh melahirkan kesombongan, karena pada hakikatnya manusia tidak akan mampu mencapai keberhasilan tanpa pertolongan Allah SWT dan berbagai pihak di sekitarnya.
"Jangan memiliki pikiran bahwa semua keberhasilan karena diri sendiri. Merasa paling hebat, paling berjuang, dan paling berkorban adalah sikap yang keliru. Orang yang pintar tetapi sombong justru kehilangan makna dari ilmu yang dimilikinya," ujar Umar Khattob, Minggu, 7 Juni 2026.
Ia menjelaskan bahwa karakter tidak terbentuk secara instan, melainkan melalui latihan yang terus-menerus. Kebiasaan yang baik akan melahirkan kemampuan, sedangkan latihan yang konsisten akan membentuk kepribadian yang kokoh.
Menurutnya, pendidikan harus mampu menciptakan generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga memiliki empati, kepedulian sosial, serta kesadaran spiritual yang kuat.
"Anak-anak harus dilatih untuk menjadi rajin, disiplin, peduli, dan bertanggung jawab. Karakter itu lahir dari kebiasaan yang dilakukan berulang-ulang. Seseorang menjadi bisa karena biasa, menjadi kuat karena terlatih," katanya.
Dalam proses pembentukan karakter tersebut, SMK Pasundan 2 Bandung menerapkan nilai-nilai Pancawaluya, yaitu lima karakter utama yang menjadi fondasi pendidikan. Kelima nilai tersebut meliputi Cageur (sehat lahir dan batin), Bageur (berakhlak baik), Bener (jujur dan bertanggung jawab), Pinter (cerdas dan berilmu) serta Singer (terampil dan produktif).
Umar menjelaskan bahwa konsep Cageur tidak hanya dimaknai sebagai sehat jasmani, tetapi juga sehat secara mental dan spiritual. Karena itu, siswa dibiasakan menjalani pola hidup sehat, berolahraga, serta menjaga asupan makanan yang bergizi dan seimbang.
"Sehat jasmani harus dibangun melalui gerak, olahraga, dan pola hidup yang baik. Dari sana akan tumbuh kesehatan batin yang lebih kuat," jelasnya.
Selanjutnya, nilai Bageur dan Bener diarahkan untuk membangun kesadaran moral, rasa syukur, kesabaran, kejujuran, dan keikhlasan dalam kehidupan sehari-hari. Ia menilai bahwa kecerdasan tanpa landasan iman dan akhlak akan melahirkan ketimpangan dalam diri seseorang.
"Kepintaran harus dibangun di atas fondasi kesehatan, kebaikan, dan kebenaran. Jangan sampai menjadi pintar tetapi keblinger, memiliki ilmu tetapi kehilangan arah," tegasnya.
Umar juga menekankan pentingnya pendidikan keimanan sebagai pondasi utama dalam pembentukan karakter. Menurutnya, iman kepada Allah SWT, malaikat, kitab-kitab Allah, para nabi dan rasul, hari akhir, serta takdir harus menjadi bagian dari proses pendidikan agar peserta didik tumbuh secara utuh.
Ia mengibaratkan kehidupan seperti kendaraan yang memerlukan mesin, bahan bakar, rem, dan tujuan yang jelas. Dalam konteks kehidupan, iman dan Islam menjadi penggerak, syukur dan sabar menjadi pengendali, sedangkan ikhlas menjadi tujuan akhir perjalanan manusia.
"Syukur adalah gasnya, sabar adalah remnya, dan ikhlas adalah tujuannya. Semua itu bermuara kepada Allah SWT," ungkapnya.
Pada akhirnya, Pendidikan Karakter Pancawaluya diarahkan untuk melahirkan manusia yang bermanfaat bagi sesama. Umar mengutip prinsip bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling banyak memberikan manfaat kepada orang lain.
"Tujuan akhir pendidikan bukan hanya menghasilkan orang pintar, tetapi melahirkan pribadi yang sehat, baik, benar, cerdas, terampil, beriman, dan mampu menjadi sumber manfaat bagi masyarakat," pungkasnya.