Jumat, 14 Oktober 2022 16:55

Sistem Pendidikan Harus Mampu Menyembuhkan Tiga Dosa Pendidikan

Reporter : Bubun Munawar
webinar series yang  mengangkat topik nonton dan diskusi video merdeka belajar, yang digelar Ikatan Guru Indonesia Kota Cimahi, Kamis (13/10/2022).
webinar series yang mengangkat topik nonton dan diskusi video merdeka belajar, yang digelar Ikatan Guru Indonesia Kota Cimahi, Kamis (13/10/2022). [Istimewa]

Limawaktu.id,- Kepala Dinas Pendidikan Kota Cimahi Hardjono mengungkapkan,  pemaknaan implementasi kurikulum merdeka belajar sebagai bagian dari digitalisasi dunia pendidikan, dimana pada awal perkembangannya pemerintah membuat sebuah aplikasi jaringan data nasional yang berkembang menjadi dapodik hari ini, yang terintegrasi dengan berbagai sistem dalam rangka pengembangan kurikulum.

“Kami mendukung secara maksimal pelaksanaan kurikulum merdeka di Kota Cimahi,” ungkapnya, saat webinar series yang  mengangkat topik nonton dan diskusi video merdeka belajar, yang digelar Ikatan Guru Indonesia Kota Cimahi, Kamis (13/10/2022).

Menurutnya sistem pendidikan harus mampu menyembuhkan tiga dosa pendidikan diantaranya bullying, kekerasan seksual dan intoleransi yang dapat mengakibatkan trauma pada seseorang.

Kadisdik juga mengapresiasi guru-guru ditingkat SD dan SMP yang sudah memahami platform merdeka mengajar, dimana untuk raport mutu pendidikan Kota Cimahi untuk literasi dan numerasi pada tingkatan SD dan SMP memduduki posisi rangking 1 di Jawa Barat.

Sedangkan menyoroti Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB) atau Sustainable Development Goals (SDGs) untuk poin pendidikan, kadisdik menyampaikan bahwa pendidikan yang berkualiatas menjamin pendidikan yang inklusif, merata, dan memberikan kesempatan untuk pendidikan sepanjang hayat.

“Inklusif disini dimaknai bahwa setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk bersekolah dimana saja, oleh karena itu diatur sesuai dengan zona wilayahnya.  Agar semua orang punya kesempatan untuk berkembang sesuai dengan kemampuannya masing-masing di sekolah-sekolah terbaik yang berada disekitar wilayah tempat tinggal calon peserta didik,” katanya.

Haedjono mengatakan setiap orang punya potensi yang beda-beda sehingga pembelajaran dikelas sudah seharusnya dilakukan secara diferensiasi, dengan assesmen diagnostik. Sehingga dalam kurikulum merdeka assesmen tidak lagi dilakukan hanya berdasarkan tes tertulis saja. Tapi disesuaikan dengan kebutuhan peserta didik.

“Karena pada dasarnya semua anak memiliki kecerdasan yang berbeda antara satu sama lain,” jelasnya.

Kegiatan webinar  nonton dan diskusi video merdeka belajar kali ini di sampaikan oleh narasumber Tresi Tiara Intania Fatimah, S.E., M.Pd. Dipandu oleh host Latifah Pujiastuti, S.Pd yang juga dihadiri oleh guru-guru mulai dari tingkatan PAUD, TK, SD, SMP dan SMA/SMK.

Dalam video yang ditayangkan Najeela Shihab sebagai Pendiri Kampus Guru Cikal dan Inisiator Komunitas Guru belajar memaparkan bahwa guru sering terjebak pada tugas-tugas administratif, sehingga pada saat memberikan pembelajaran sering tidak berdampak pada peserta didik.

Kemudian kolaborasi antar guru juga belum maksimal. Menurutnya dunia anak di Indonesia itu hanya sebatas ruang kelasnya, Sehingga impian anak-anak sering terbatas hanya pada tingginya tangan untuk menjawab pertanyaan guru saja. Sementara harapannya adalah mereka memiliki aspirasi tinggi dan mampu memiliki cita-cita yang melampaui langit, melampaui batas ruang kelasnya, melampaui batas dunianya. Menurutnya hal tersebut hanya bisa terjadi jika anak-anak memiliki kemerdekaan dalam belajar. 

“Kemerdekaan peserta didik akan diperoleh jika kita sebagai guru juga memiliki kemerdekaan dalam melaksanakan pembelajaran dikelas,” paparnya.

Proses kemerdekaan bagi guru bukanlah sebuah proses yang diberikan, tapi sesuatu yang harus kita gerakkan secara bersama-sama. Dan proses tersebut bukan merupakan hal yang mudah untuk dicapai, karena untuk berubah guru dituntut untuk memiliki komitmen, kemandirian dan juga harus mampu melakukan refleksi.

“Tetapi betapa sulitnya hal itu untuk diterapkan, seringkali guru dihadapkan pada situasi yang membuat proses belajar guru menjadi terhambat. Kemampuan untuk refleksi juga sangat sulit untuk dilakukan karena banyaknya ketakutan yang harus dihadapi oleh guru ketika akan melakukan perubahan.” pungkasnya. (*/)

Baca Lainnya

Topik Populer

Berita Populer