Senin, 26 November 2018 10:42

Rapor Merah Pelaksanaan Malam Seni dan Budaya Kota Cimahi

Reporter : Fery Bangkit 
Pelaksanaan Malam Seni dan Budaya Kota Cimahi di Gedung Technopark Cimahi, Jln. Raya Baros, Sabtu (24/11/2018).
Pelaksanaan Malam Seni dan Budaya Kota Cimahi di Gedung Technopark Cimahi, Jln. Raya Baros, Sabtu (24/11/2018). [Fery Bangkit/Limawaktu]

Limawaktu.id - Pelaksanaan Malam Seni dan Budaya Kota Cimahi yang digelar Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga (Disbudparpora) Kota Cimahi di Gedung Technopark Cimahi, Jln. Raya Baros, Sabtu (24/11/2018) malam dinilai cacat.

Bahkan, acara itu dianggap prematur atau terlalu dipaksakan dan seolah-olah dilakukan hanya untuk menyerap anggaran yang ada saja alias hanya menghamburkan anggaran.

Baca Juga : Kebersamaan Wakil Wali Kota Cimahi Ngatiyana dengan Para Seniman

Ketua Lembaga Kesenian Cimahi (Lekci), Dede Syarif, usai menghadiri pelaksanaan Anugerah Seni dan Budaya Kota Cimahi, di Technopark, Jalan Baros Kota Cimahi. Tidak hanya pelaksanaannya yang dianggap prematur, dalam gelaran ini juga ada berbagai kesalahan yang dilakukan panitia.

Salah satunya adalah adanya aturan calon penerima anugrah yang harus mendaftarkan diri. Padahal, seharusnya calon penerima anugrah didaftarkan oleh masyarakat atau pelaku seni.

"Akhirnya setelah ada desakan dari berbagai lembaga seni budaya se-Kota Cimahi akhirnya konsep diubah. Tapi setelah konsep berubah ada beberapa kategori yang dihapus, di antaranya pedalangan dan musik modern," katanya.

Selain itu, lanjutnya, kesalahan yang paling utama adalah penentuan pemenang penghargaan. Seharusnya sebuah penghargaan diberikan kepada pelaku seni yang sudah memberikan kontribusi kepada daerahnya baik secara sosok, pertokohan atau hasil karyanya serta sejauh mana pengaruh dari hasil karyanya itu terhadap perubahan lingkungan di masyarakat. Namun yang terjadi pada penganugrahan kali ini, ada beberapa nama yang diluar dari konteks atau kriteria yang biasa. 

"Nama tokoh-tokoh tersebut muncul secara tiba-tiba, padahal mereka sama sekali tidak dikenal. Domisili dan kontribusi serta karya orang itu juga, kita tidak tau," katanya.

Menurut Dede, selama ini pihak Disbudparpora hanya berinisiatif sendiri dalam pelaksanaan acara. Pihak dinas tidak pernah sama sekali meminta pendapat atau membicarakan penganugrahan ini kepada para pelaku seni budaya di Cimahi yang sebenarnya lebih paham.

"Kami malah sempat mendorong Dewan Seni Budaya (DSB) untuk maju kedepan memberikan masukan kepada pihak pemerintah," ujarnya.

Bahkan, DSB sempat melakukan protes terhadap pemerintah terkait kriteria kelayakan peserta yang memperoleh penghargaan. Dan awalnya pihak DSB tidak akan turut campur dalam acara ini. Namun, belakangan diketahui malah DSB merekomendasikan beberapa nama kepada pihak panitia untuk menerima penghargaan.

"Sekarang nama yang diusulkan malah jadi pemenang. Kan lucu. Saya berpikir ada konflik kepentingan di sini," tandasnya.

Baca Lainnya