Rabu, 16 Mei 2018 12:28

Potret Miris Rumah Milik Sukaesih yang tak Tersentuh Program Rutilahu

Reporter : Fery Bangkit 
Kondisi rumah milik pasangan Kurdi (76) dan Sukaesih (70) di Kampung Cibogo yang belum tersentuh program Rutilahu.
Kondisi rumah milik pasangan Kurdi (76) dan Sukaesih (70) di Kampung Cibogo yang belum tersentuh program Rutilahu. [Limawaktu]

Limawaktu.id,- Potret miris tersaji dari rumah sederhana milik sepasang suami istri Kurdi (76) dan Sukaesih (70) di Kampung Cibogo, RT4/06, Kelurahan Leuwigajah, Kecamatan Cimahi Selatan, Kota Cimahi.

Rumah sederhana berukuran enam tumbak milik keduanya nyaris roboh. Terdapat tiga ruangan di rumah warisan dari orang tuanya itu.

Ruang pertama, yakni dapur dan kamar mandi nampak sudah lapuk. Beberapa bagian rumahnya sudah retak. Sedangkan atap dan kayu sudah nampak lapuk.

Masuk ke ruang tengah, yang merupakan tempat tidur Sukaesih dan Kurdi, hanya terdapat kasur lapuk dan dua lemari. Sementara bagian atapnya agak lebih baik dibadingkan ruang dapur.

Kemudian, ruang terakhir terlihat lebih parah. Ruang yang tadinya merupakan kamar tidur, kini tak bisa ditinggali lagi. Atap rumah sudah mulai keropos.

Jika hujan turun, otomatis ruangan tersebut akan digenangi air. Plastik yang digunakan untuk menambal atap pun tak sudah rusak.

"Iya terpkasa di sini menghabiskan masa tua. Takut sebenarnya," tutur Sukaesih, saat ditemui di kediamannya, Rabu (16/5/2018).

Rumah sederhana itu merupakan warisan dari orang tuanya, yang meninggal tahun 2006 silam. Setelah kedua orang tuanya meninggal, kemudian ia mendapat bagian untuk mendiami rumah tersebut.

Kemudian, lima tahun berselang atau sekitar tahun 2011, rumah yang ditinggali Sukaesih mulai nampak keropos. Beberapa bagian rumahnya sudah terlihat rusak.

Pekerjaan suaminya, Kurdi yang hanya buruh serabutan tak cukup untuk membiayai perbaikan rumahnya. Sementara tiga anaknya, yang sudah berumah tangga pun hanya cukup untuk membantu biaya makan saja.

"Iya dijalani saja nenek mah," ucap Sukaesih, lirih.

Sebetulnya, Sukaesih dan suaminya sangat mengharapkan sekali bantuan dari pihak pemerintah. Namun, dinanti-nanti hingga sekarang pun, bantuan rehabilitasi itu tak kunjung terealisasi.

Terpaksa, ia harus lawan rasa takut setiap harinya. Sebab, rumah yang ditinggalinya kini sudah bisa nyaris roboh. Masa tuanya pun kini akan dihabiskan disana, sambil berharap bantuan perbaikan rumah datang.

Bukan ingin bergantung pada bantuan, namun memang fakta kondisi ekonominya tidak memunginkan untuk memperbaiki rumah. Suaminya, kini hanya berpenghasilan kisaran Rp 100 ribu/bulan. Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, dirinya hanya mengandalkan bantuan dari ketiga anak dan bantuan lainnya.

"Dari pemerintah sempet ke sini, masuk. Foto-foto doang," ujarnya.