Limawaktu.id, Bekasi - Kepala Basarnas, Marsekal Madya (Marsdya) TNI Muhammad Syafii, memberi penjelasan terkait proses evakuasi KA Argo Bromo Anggrek dan KRL yang tidak langsung menarik lokomotif yang tertemper di Stasiun Bekasi Timur.
Menurut Syafii, seluruh komponen yang terlibat telah berhasil menyelesaikan operasi besar penanganan kecelakaan kereta dalam waktu kurang dari 12 jam. Berdasarkan perhitungan, operasi dimulai sejak pertemuan pada pukul 08.57 WIB hingga dinyatakan selesai pada pagi hari.
“ Insiden ini merupakan kecelakaan antara dua kereta, yakni kereta komuter dan kereta jarak jauh. Dalam proses penanganan, tim menghadapi kondisi yang cukup kompleks, terutama karena adanya korban yang terjepit material rangkaian kereta,” ungkapnya, dalam keterangnnya kepada awak media, Selasa, 28 April 2028.
Dia menjelaskan, pada saat kejadian, terdapat lima korban yang masih berada dalam kondisi tertutup material, sehingga tim harus melakukan proses evakuasi dengan teknik khusus (ekstrikasi). Hal ini juga menjadi alasan mengapa lokomotif dan gerbong tidak dapat langsung dipindahkan secara bersamaan, karena prioritas utama adalah penyelamatan korban.
Seluruh korban yang berhasil dievakuasi, baik dalam kondisi selamat maupun meninggal dunia, langsung diserahkan kepada tim medis untuk dibawa ke rumah sakit rujukan. Proses identifikasi korban sepenuhnya menjadi kewenangan pihak medis.
Dia menjelaskan, Operasi ini melibatkan berbagai metode dan peralatan, mulai dari alat manual hingga peralatan listrik dan sistem penarikan berat. Berkat koordinasi yang baik antara seluruh unsur tim SAR, proses evakuasi dapat berjalan lancar.
“ Pada pukul 08.00 WIB, seluruh operasi SAR resmi dinyatakan selesai, dan semua personel dikembalikan ke home base masing-masing. Meski demikian, apabila dalam proses lanjutan ditemukan bagian atau barang milik korban sekecil apa pun, maka akan tetap dilakukan penanganan sesuai prosedur,” jelasnya.
Kecelakaan ini tergolong luar biasa, mengingat benturan yang terjadi menyebabkan lokomotif masuk hingga ke dalam gerbong kereta lain. Kondisi tersebut mengakibatkan sebagian besar korban mengalami cedera berat akibat terjepit.