Limawaktu.id, Bandung – Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung terus memperkuat literasi digital masyarakat seiring tingginya aktivitas warga di ruang digital. Upaya tersebut menjadi bagian dari komitmen pemerintah dalam membangun ekosistem digital yang sehat, produktif, serta mampu menghadapi berbagai tantangan informasi di era teknologi.
Komitmen tersebut disampaikan Pelaksana Harian Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kota Bandung, Andri Darusman, Rabu, 20 Mei 2026.
Andri mengapresiasi penyelenggaraan workshop yang dinilai strategis dalam memperkuat ketahanan informasi masyarakat di tengah perkembangan teknologi digital yang semakin pesat.
Menurutnya, transformasi digital telah mengubah pola komunikasi, pembelajaran, hingga pembentukan opini publik. Karena itu, ruang digital kini tidak hanya berfungsi sebagai sarana komunikasi, tetapi juga berkembang menjadi ruang edukasi, ekonomi, hingga bagian dari pertahanan informasi bangsa.
“Kota Bandung memiliki posisi strategis dalam perkembangan ekosistem digital nasional. Bandung dikenal sebagai kota pendidikan, teknologi, dan kreativitas dengan dominasi generasi muda yang aktif di ruang digital,” ujar Andri.
Ia mengungkapkan, berdasarkan data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), tingkat penetrasi internet di Kota Bandung pada 2024 telah melampaui 70 persen dan meningkat menjadi sekitar 85 persen pada 2025.
Tingginya penetrasi digital tersebut turut mendorong Kota Bandung meraih skor tertinggi nasional dalam Penghargaan Indeks Masyarakat Digital Indonesia (IMDI) 2025 untuk wilayah Indonesia Barat dengan nilai 64,77.
Capaian itu ditopang oleh pemerataan infrastruktur teknologi, peningkatan literasi digital masyarakat, serta tingginya partisipasi warga dalam pemanfaatan teknologi di berbagai sektor, mulai dari pendidikan, pelayanan publik, ekonomi kreatif, hingga pemberdayaan UMKM lokal.
Meski demikian, Andri menegaskan bahwa perkembangan digital juga membawa tantangan besar, seperti penyebaran hoaks, disinformasi, ujaran kebencian, hingga penipuan digital yang berpotensi mengganggu stabilitas informasi di masyarakat.
Karena itu, literasi digital dinilai menjadi kebutuhan mendasar. Tidak hanya sebatas kemampuan mengoperasikan teknologi, literasi digital juga mencakup kemampuan berpikir kritis, memverifikasi informasi, memahami etika digital, serta memanfaatkan media sosial secara bijak dan bertanggung jawab.
Ia menekankan pentingnya peran generasi muda sebagai agen perubahan di ruang digital.
“Anak-anak muda yang melek digital harus mampu menjadi penyebar informasi positif, kreator konten edukatif, sekaligus benteng melawan hoaks,” katanya.
Melalui Workshop Sohib Berkelas, Pemkot Bandung berharap lahir kolaborasi kreatif antara pemerintah, komunitas, mahasiswa, konten kreator, serta masyarakat dalam membangun ekosistem digital yang sehat dan berdampak positif.
Selain meningkatkan kapasitas sumber daya manusia pengelola informasi publik dan komunitas digital, kegiatan tersebut juga diharapkan mampu memperkuat sinergi antarpemangku kepentingan dalam menghadapi tantangan ruang digital yang terus berkembang.
Andri pun mengajak seluruh peserta memanfaatkan forum tersebut sebagai ruang belajar, berbagi gagasan, memperluas jejaring, serta membangun gerakan bersama untuk menciptakan ruang digital Indonesia yang aman, sehat, dan penuh narasi positif.
“Di era digital saat ini, mempertahankan persatuan bangsa tidak selalu dilakukan di medan fisik, tetapi juga di ruang informasi. Tugas kita bersama memastikan ruang digital Indonesia dipenuhi narasi yang positif, cerdas, dan membangun,” tuturnya.