Sabtu, 6 Oktober 2018 14:42

PD Pasar Siapkan Layanan Pengaduan bagi Korban Kebakaran

Reporter : Iman Mulyono
ilustrasi
ilustrasi [istimewa]

Limawaktu.id, Bandung - Perusahaan Daerah (PD) Pasar Bermartabat Kota Bandung menyatakan telah membuka layanan pengaduan bagi pedagang terdampak kebakaran. Layanan pengaduan itu disiapkan untuk mendata pedagang yang kios atau bangunannya terbakar agar bisa segera direlokasi.

Sebelumnya, si jago merah melahap bangunan Pasar Sederhana sekitar pukul 21.40 WIB pada Jumat (05/10) malam. Kurang lebih, sebanyak 200 bangunan kios yang terdapat di blok A1, A2 dan A3 ludes terbakar akibat peristiwa tersebut.

Direktur Umum Administrasi dan Keuangan PD Pasar Bermartabat, Andri Salman mengatakan, sampai saat ini pihaknya masih mendata para pedagang yang menjadi korban kebakaran. PD Pasar Bermartabat juga akan menginventarisir kerugian pedagang, pemilik dan pengelola kios.

"Kita akan prioritaskan para pedagang untuk pindah ke pasar Impres (bagian selatan pasar sederhana)," kata Andri di Bandung, Sabtu (06/10).

Dikatakan Andri, para pedagang nantinya akan direlokasi ke Pasar Impres yang telah memiliki sebanyak 230 lapak bagi korban. Akan tetapi, dia menyebut Pasar Impres sebenarnya akan diperuntukkan bagi para Pedagang Kaki Lima (PKL) di sekitar Pasar Sederhana.

"Tapi karena ada musibah ini, untuk sementara digunakan bagi pedagang yang menjadi korban kebakaran," kata dia.

Andri mengungkapkan, jumlah lapak yang ada dan terdata di Pasar Sederhana sebanyak 395, tapi hanya 192 lapak yang aktif berjualan. Untuk itu, dirinya menilai semua pedagang terdampak kebakaran bisa segera direlokasi karena jumlah tidak terlalu banyak.

"Jadi bisa kita relokasikan sementara ke pasar Impres karena sisanya tutup ataupun kosong," kata dia.

Untuk menghindari hal maupun kejadian yang tidak diinginkan, kata Andri, PD Pasar sering menyosialisasikan serta mengimbau dan juga melarang para pedagang untuk tidak menghuni maupun bermalam di pasar. Namun, pedagang tidak mengindahkan imbauan pihaknya.

"Kita sudah sering melarang pedagang tinggal atau menghuni lapak. Dikhawatirkan beberapa kios ada aktivitas memasak di malam hari. Itu yang tidak terkendali," kata dia.

Baca Lainnya