- Wakil Direktur I Bidang Akademik Pascasarjana Universitas Pasundan (UNPAS), Prof. Dr. H. Yaya Mulyana Abdul Azis, M.Si
- Wakil Direktur I Bidang Akademik Pascasarjana Universitas Pasundan (UNPAS), Prof. Dr. H. Yaya Mulyana Abdul Azis, M.Si [Istimewa]
News

Pascasarjana UNPAS-UNY Rancang Seminar Internasional Triple Transition

Limawaktu.id, Kota Bandung - Wakil Direktur I Bidang Akademik Pascasarjana Universitas Pasundan (UNPAS), Prof. Dr. H. Yaya Mulyana Abdul Azis, M.Si., menegaskan bahwa kesuksesan agenda seminar internasional multidisiplin kerjasama  antara Universitas Pasundan ( UNPAS)  dan Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) terletak pada kesiapan seluruh program studi untuk keluar dari sekat sektoral keilmuan.

Pernyataan ini disampaikannya guna merespons rancangan besar Seminar Internasional bertajuk "Navigating the Triple Transition: Digital Transformation, Green Governance, and Educational Equity in the Post-Digital Era".

Sebagai Guru Besar,  Prof. Yaya Abdul Azis menyoroti bahwa integrasi 14 program studi pascasarjana dalam satu payung tema besar adalah langkah taktis yang sangat relevan dengan tantangan global.

Menurut Yaya, Mahasiswa S2 dan S3 tidak boleh lagi berpikir linier, melainkan harus mampu mengaitkan teknologi digital, kebijakan hukum lingkungan, dan keadilan akses pendidikan dalam satu pisau analisis tesis atau disertasi.

“Isu-isu seperti tata kelola adaptif, digitalisasi birokrasi, hingga Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik (SPBE) harus menjadi roh riset mahasiswa rumpun manajemen dan administrasi.Mutu Luaran Internasional,” katanya.

Yaya sangat mendukung kerja sama luaran dengan penerbit bereputasi seperti Springer dan Routledge demi mengerek indikator kinerja utama (IKU) internasionalisasi kampus.

Seminar ini digelar dalam upaya merespons disrupsi global pasca-digital, Pascasarjana Universitas Pasundan (UNPAS) berkolaborasi dengan Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) mematangkan cetak biru pergelaran seminar internasional interdisipliner berskala masif. Forum akademik ini sengaja didesain untuk merangkul 14 program studi magister (S2) dan doktor (S3) guna membedah satu tema sentral: "Navigating the Triple Transition: Digital Transformation, Green Governance, and Educational Equity in the Post-Digital Era".

Yaya menilai kompleksitas masalah dunia hari ini tidak lagi bisa diselesaikan menggunakan kacamata tunggal.

"Masa depan pembangunan tidak terletak pada peluncuran program baru atau kajian ilmiah yang terisolasi, tetapi pada kapasitas kita mengubah kebijakan lintas sektor menjadi solusi nyata bagi kesejahteraan masyarakat. Lewat forum ini, mahasiswa S2 dan S3 dipaksa keluar dari zona nyaman ilmu sektoralnya," ujar Prof. Yaya, Jum’at, 14 Agustus 2026.

Yaya menjelaskan, Seminar ini akan membagi diskursus ke dalam empat klaster besar keilmuan yang saling bertautan yaitu Klaster Sosial & Politik: Membedah fenomena algorithmic politics dan kewargaan digital.

Klaster Hukum: Mengkritisi regulasi kecerdasan buatan (AI) serta kedaulatan data nasional.

Klaster Manajemen & Administrasi: Berfokus pada implementasi agile governance dan pelaporan instansi publik berbasis digital.

Klaster Pendidikan: Merumuskan cetak biru kurikulum hibrida berstandar akreditasi internasional.

Prof. Yaya menambahkan bahwa riset-riset yang dipresentasikan dalam seminar ini didorong untuk mengarah pada pemecahan masalah praktis dalam tata kelola pemerintahan daerah, seperti integrasi aspek ESG (Environmental, Social, and Governance) dan kesiapan menghadapi ekonomi hijau.

Untuk memastikan bobot akademik berada pada level tertinggi, komite bersama UNPAS-UNY telah mengunci kemitraan publikasi strategis. Seluruh artikel ilmiah yang lolos kurasi ketat ditargetkan untuk diterbitkan pada prosiding internasional bereputasi terindeks Scopus atau Web of Science, edisi khusus jurnal ilmiah terakreditasi SINTA 2, serta kompilasi book chapter oleh penerbit global terkemuka seperti Routledge dan Springer.

Seminar internasional ini diproyeksikan akan dihadiri oleh ratusan akademisi, praktisi birokrasi, dan peneliti pascasarjana dari berbagai belahan dunia, menjadikannya salah satu episentrum diskursus triple transition paling dinamis tahun ini.

Baca Lainnya