Selasa, 13 November 2018 15:23

Para Pelaku Pengeroyok Suporter Persija Jakarta Resmi Ajukan Banding

Reporter : Fery Bangkit 
Sidang Pengeroyokan.
Sidang Pengeroyokan. [Fery Bangkit/Limawaktu]

Limawaktu.id - Tim kuasa hukum pelaku anak pengeroyokan Suporter Persija Jakarta, Haringga Sirla, Dadang Sukmawijaya resmi mengajukan banding ke Pengadilan Negeri (PN) Klas 1A Bandung.

Banding yang diajukan Dadang untuk empat pelaku anak, yakni  SH (17),  AAP (15), TD (17), dan AF (16). Akta Banding untuk AF nomor : 04/Akta. Pid-Anak/2018/ PN Bandung tertanggal 12 November 2018.

Baca Juga : Tangisan Pelaku Penganiaya Suporter Persija Usai Divonis 3 Tahun Penjara

Sedangkan untuk Anak SH, AAP, TD ikrar banding berdasarkan Akta Nomor : 05/Akta.pid-anak/2018/PN bdg. Tertanggal 12 November 2018. 

"Banding diajukan lantaran keluarga kecewa atas putusan hakim yang menghukum pidana dan hukuman penjara," katanya lewat pesan singkatnya, Selasa (13/11/2018).

Baca Juga : Lima Pelaku Pengoroyok Suporter Persija Jakarta Terancam 7,5 Tahun Penjara

Padahal, lanjutnya, dari fakta di persidanan pelaku anak hanya memukul sekali, menendang, dan menginjak. Jadi tidak sebanding hukuman pidana dengan perbuatan anak.

Di sisi lain, anak merupakan pelaku penyerta bukan pelaku utama dan hanya ikut ikutan terbawa emosi masa. Kemudian kekecewaan lain hakim tidak mempertimbangkan hasil penelitian Balai Pemasyarakatan (Bapas) Bandung sebagaimana Pasal 60 ayat 3 dan 4 UU  No 11 tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Anak.

Baca Juga : Divonis Tiga Tahun, Dua Pelaku Pengeroyok Suporter Persija Pasrah

Dimana Bapas merekomendasikan untuk anak SH, TD, AF dibina di Masjid dan mengikuti salat berjamaah magrib dan isya, harus mewajibkan utuk bersih bersih Masjid setiap minggu selama enam bulan, dan diawasi Ketua DKM, serta anak tetap harus melanjutkan sekolah. 

Sementara untuk anak AAP, Bapas merekomendasikan agar dimasukan ke panti sosial rehabilitasi anak berhadapan dengan  hukum di Cileungsi, Bogor

Baca Juga : Tiga Pengeroyok Suporter Persija Divonis Tiga-Empat Tahun

Dengan demikian putusan hakim tidak mempertimbangkan Pasal 60 ayat 3 dan 4, Sistem Peradilan Pidana Anak, yang isinya hakim wajib mempertimbangan laporan penelitian kemasyarakatan dari pembimbing kemasyarakatan sebelum menjatuhkan putusan.

"Kalau pasal tersebut tidak dilaksanakan oleh hakim maka putusan tersebut batal demi hukum," ujarnya.

Hal itu sesuai dengan pasal 60 ayat 4 UU No 11 tahun 2012, tentang sistem peradilan anak, yakni menjadi batal demi hukum dalam kententuan ini adalah tanpa dimintakan untuk dibatalkan dan putusan tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat.

Dadang berharap semoga Hakim Pengadilan Tinggi Jawa Barat dapat menerima Banding sesuai Pasal 60 ayat 3 dan 4 dan anak anak bisa pulang kembali ke keluarga dan bisa melanjutkan sekolah.

Baca Lainnya