Minggu, 6 Mei 2018 17:08

Pakar Lingkungan: Target Revitalisasi Citarum selama 7 Tahun di Era Digital itu Rasional

Reporter : Jumadi Kusuma
Dialog Dwimingguan yang digelar Eksplorasi Dinamika dan Analisa Sosial (EDAS) bertema Citarum (Tak) Harum, di Raozeun Cafe, Arcamanik Kota Bandung, Kemarin.
Dialog Dwimingguan yang digelar Eksplorasi Dinamika dan Analisa Sosial (EDAS) bertema Citarum (Tak) Harum, di Raozeun Cafe, Arcamanik Kota Bandung, Kemarin. [Limawaktu]

Limawaktu.id,- Pakar lingkungan Universitas Maranatha Bandung, Gai Suhardja, Ph.D menyatakan bahwa karena pembiaran Sungai citarum tidak berubah sejak jauh hari, demikian terungkap pada Dialog Dwimingguan yang digelar Eksplorasi Dinamika dan Analisa Sosial (EDAS) bertema Citarum (Tak) Harum, di Raozeun Cafe, Arcamanik Kota Bandung, Sabtu (5/5/18).

Namun Gai optimis dengan adanya perubahan besar dari legislatif dan eksekutif dengan turun tangannya Presiden Jokowidodo.

Baca Juga : Soal Dugaan Pencemaran Sungai Citarum, DLH KBB Tunggu Hasil Sampel 8 Perusahaan

"Saya optimis ini gerakan mengajak elemen masyarakat untuk bergerak walaupun yang pesimis masih ada karena trauma masa lalu", kata Gai optimis terhadap Program Citarum Harum.

Gai yang hadir dalam dialog sebagai narasumber tersebut memaparkan kondisi Sungai Citarum, pengalaman beberapa negara yang menghadapi masalah yang sama juga visualisasi masa depan Sungai Citarum untuk memantik semangat perubahan dan harapan.

Baca Juga : Prihatin Kondisi Citarum, Jurnalis Bentuk Komunitas Peduli Citarum

"Saya mengamati sejarah negara yang memiliki masalah sungai seperti Singapura dan San Antoni membutuhkan waktu 20 tahun atau empat periode pemerintahan untuk menangani sungai menjadi bersih dan jernih kembali", jelasnya.

Menurut Gai Presiden Jokowidodo berani mentargetkan pembenahan Sungai Citarum selama 7 tahun karena saat ini era digital.

"Beliau sadar ini era digital, waktu 20 tahun itu sebelum digitalisasi. Ini percepatan 7 tahun harus selesai, kita harus bergerak", pungkasnya.

Baca Lainnya