Kamis, 27 Februari 2020 10:51

Pak TB yang Mau Jual 20 Ribu Koleksi Buku "Minat Baca Sudah Habis"

Suparman Siswoduharjo (70) saat menunjukan puluhan Ribu Buku miliknya
Suparman Siswoduharjo (70) saat menunjukan puluhan Ribu Buku miliknya [Fery Bangkit]

Limawaktu.id - Puluhan ribu buku masih tersusun rapi di sebuah bangunan di Jalan Jenderal Amir Machmud-Tagog, tepatnya Gang Arjo, Kelurahan Cimahi, Kecamatan Cimahi Tengah, Kota Cimahi.

Bukunya bahkan sudah berubah warna, menjadi kekuning-kuningan yang menandakan keberadaannya sudah sejak puluhan tahun lalu di sebuah bangunan yang dinamakan 'Taman Bacaan Garuda'.

Pemiliknya adalah Suparman Siswoduharjo (70). Pria yang kerap disapa 'Bapak Garuda atau Pak TB' sudah mengumpulkan buku bacaan dari mulai komik hingga novel sejak bangku sekolah dasar.

Saat ditemui di Taman Bacaan Garuda pada Rabu (26/2/2020), Pak TB tengah merapikan buku-buku koleksinya agar tetap tertata. Ia masih hafal betul tata letak dan urutan buku, meski usianya sudah cukup lama.

"Pertamanya memang saya suka baca, dari zaman sekolah dasar," kata Pak TB.

Kemudian ia mulai berpikir bagaimana caranya buku yang sudah dibeli bisa menghasilkan uang, dan terpikirlah untuk menyewakan buku koleksinya. "Nah uang sewa buku itu, saya belikan buku lagi," tuturnya.

Tahun 1982, Pak TB akhirnya mulai serius menggeluti usaha sewa buku di kawasan Bandung. Sekira tahun 1990-an, ia pindah ke Kota Cimahi, dan menetapi hingga sekarang di lokasi Taman Baca Garuda yang berada di pusat Ibu Kota Cimahi.

Kebetulan memang era tahun 1990-2010 minta literasi masyarakat sangat tinggi. Persewaan komik hingga novel saat itu menjadi bisnis yang menggiurkan kala itu. Termasuk di Kota Cimahi.

"Tahun 1992 itu mulai ramai komik Jepang atau Manga yang banyak peminatnya. Ada juga novel-novel lama yang berseri," terang Pak TB.

Taman baca milik Pak TB sangatlah melegenda. Hal itu terbukti dengan ribuan pelanggan, dan merupakan tempat favorit meminjam buku di Kota Cimahi. Bahkan, ada yang sampai tak dikembalikan selama bertahun-tahun sehingga terpaksa harus ditagih langsung ke alamat peminjamnya.

"Sewanya 10 persen untuk komik dan 20 persen untuk novel dari harga buku," tuturnya.

Selama bergelut di dunia literasi, pasang surut usaha sewa buku pernah dialami Pak TB. Masa ke emasannya tahun 1990-2000-an mulai memudar seiring munculnya televisi-televisi swasta, yang membuat minat membaca dinilainya mulai turun.

"Terus muncul zaman CD, turun lagi," ucap TB.

Kondisi semakin sulit sejak lima tahun ke belakang, dimana menurutnya minat membaca semakin menurun bahkan dikatakan habis. Pak TB sama sekali tak menyalahkan era digital yang semakin berkembang.

Namun ia sadar, era yang semakin canggih ini taman bacaan miliknya semakin ditinggalkan. Kini sekitar 20 ribu koleksi bukunya itu ditawarkan seharga Rp 75 juta. Namun, Pak TB berharap pembelinya adalah yang memiliki jiwa sosial, sehingga buku yang dilepasnya juga bisa dimanfaatkan kembali untuk orang banyak.

"Bapak masih punya komtimen, diambilnya oleh satu orang yang punya jiwa sosial. Bapak mau berhenti, udah enggak kuat. Minat baca sudah habis" tandasnya. 

Baca Lainnya