Wali Kota Cimahi Ngatiyana menghadiri Peringatan Hari Anak Nasional di Selasar Gedung B Pemkot Cimahi, Kamis, 27 Agutus 2026.
Wali Kota Cimahi Ngatiyana menghadiri Peringatan Hari Anak Nasional di Selasar Gedung B Pemkot Cimahi, Kamis, 27 Agutus 2026. [Istimewa]
News

Ngatiyana : Investasi Terbaik Bangsa Adalah Kualitas SDM Sejak Usia Dini

Limawaktu.id, Kota Cimahi - Selasar Gedung B pada Kamis pagi, 27 Agustus 2026, bukan sekadar menjadi saksi bisu sebuah perayaan rutin. Di bawah langit Cimahi, atmosfer peringatan Hari Anak Nasional (HAN) ke-42 terasa lebih berdenyut, mengirimkan sinyal kuat bahwa di bawah kepemimpinan Wali Kota Letkol (Purn) Ngatiyana, moralitas pembangunan kota kini mulai diukur dari senyum dan rasa aman anak-anaknya, bukan sekadar megahnya beton infrastruktur. Agenda ini menandai pergeseran paradigma strategis; sebuah manifesto kebijakan sosial yang menempatkan pemenuhan hak anak sebagai poros utama masa depan kota.

Wali Kota Ngatiyana menegaskan bahwa fondasi kemajuan sebuah bangsa tidak terletak pada aspal jalanan atau gedung pencakar langit, melainkan pada kualitas hidup individu-individunya sejak usia dini.

“Investasi terbaik bangsa ini bukan hanya pada pembangunan infrastruktur, tetapi investasi yang paling penting adalah investasi kepada manusia, terutama kepada anak-anak kita,” tegas Ngatiyana.

Pemerintah Kota Cimahi kini menitikberatkan pada empat hak fundamental: hak hidup, tumbuh kembang yang optimal, perlindungan dari kekerasan, serta hak partisipasi. Analisis kebijakan ini menunjukkan bahwa pemenuhan hak anak adalah tanggung jawab ekosistem kolektif. Orang tua, sekolah, dan masyarakat harus bertransformasi menjadi benteng pelindung yang inklusif, memastikan setiap anak tanpa memandang latar belakang social, memiliki ruang untuk bersuara dan berkembang dalam lingkungan yang memanusiakan mereka.

Keunikan HAN ke-42 di Cimahi tahun ini terletak pada keberanian menyandingkan isu perlindungan anak dengan keberlanjutan ekologi. Sinergi ini tidak hanya bersifat administratif, tetapi juga memiliki kedalaman filosofis melalui dua tema utama:

"Sayang Anak, Lindungi dan Bangun Masa Depan":  Sebuah penegasan atas hak suara dan penghapusan diskriminasi agar setiap anak berani berprestasi di panggungnya masing-masing.

"Miara Bumi, Ngaraksa Jaga":  Kearifan lokal Sunda ini diangkat sebagai ruh gerakan lingkungan. Bukan sekadar memilah sampah atau menghemat energi, filosofi ini mengajak anak-anak "merawat bumi untuk menjaga masa depan."Internalisasi nilai  Miara Bumi  sejak dini adalah langkah visioner untuk membentuk warga kota yang bertanggung jawab. Kesadaran lingkungan ini pun menjadi ujian kepemimpinan pertama bagi generasi muda; sebuah pembuktian bahwa kepedulian terhadap alam adalah bentuk nyata dari kepedulian terhadap keberlangsungan hidup manusia itu sendiri.

Geliat transformasi kepemimpinan muda tampak nyata melalui pengukuhan pengurus Forum Anak Jati Mandiri periode 2026-2028. Dipimpin oleh para pelajar SMA Negeri, wadah ini menjadi laboratorium sosial yang membuktikan bahwa usia bukanlah penghalang untuk menghadirkan gagasan disruptif bagi pembangunan Cimahi.

Ngatiyana menitipkan pesan bahwa kepemimpinan sejati adalah tentang integritas dan karakter. Dia  menjabarkan empat pilar kepemimpinan yang harus menjadi napas forum ini: kemampuan untuk  mendengar  aspirasi sebaya, kerelaan untuk  melayani  masyarakat, ketangkasan untuk  bekerja sama  lintas sektor, serta keberanian untuk  bertanggung jawab  atas setiap keputusan. Forum ini diharapkan tidak hanya menjadi pelengkap seremonial, tetapi menjadi aset kreatif yang mampu mengintervensi kebijakan kota dari sudut pandang anak.

Di tengah ancaman perundungan ( bullying ) dan kerentanan di ruang digital yang kian kompleks, Pemerintah Kota Cimahi memposisikan diri sebagai perisai. Keberanian anak untuk melapor kini diangkat sebagai standar baru kekuatan karakter, bukan tanda kelemahan.

“Berani melaporkan bukan berarti lemah. Berani meminta pertolongan adalah bentuk keberanian untuk melindungi diri sendiri dan orang lain,” ujar Ngatiyana.

Kehadiran layanan perlindungan  SAPA 129  menjadi solusi konkret untuk memutus rantai kekerasan. Dalam era di mana perundungan digital ( cyberbullying ) dapat merusak psikologis anak dalam sekejap, mekanisme pelaporan dini ini berfungsi sebagai katup pengaman. Pemerintah ingin memastikan bahwa tidak ada lagi anak yang merasa sendirian saat menghadapi diskriminasi; SAPA 129 adalah jembatan yang meruntuhkan tembok ketakutan antara korban dan keadilan.

Baca Lainnya