Selasa, 3 Maret 2020 14:35

Mengudara Sejak Tahun 1960-an, Radio Unasko di Cimahi Kini Tinggal Kenangan

Statsiun Radio Unasko  kini dialihfungsikan menjadi coffeeshop dan tempat pengiriman paket.
Statsiun Radio Unasko kini dialihfungsikan menjadi coffeeshop dan tempat pengiriman paket. [Fery Bangkit]

Limawaktu.id - Dulunya, salah satu bangunan yang terletak di Jalan Kebon Cau, Kelurahan Setiamanah, Kecamatan Cimahi Tengah, Kota Cimahi ini merupakan stasion radio terkemuka pada zamannya.

Namanya adalah Radio Unasko, yang memiliki kepanjangan Usaha Nasional Komersil (Unasko) yang didirikan tahun 1960. Artinya, radio tersebut sangat bersejarah bagi Kota Cimahi, yang dulunya masih masuk Kabupaten Bandung.


Radio tersebut pernah menjadi siaran favorit tahun 1960-an. Apalagi, kala itu Cimahi tak terlalu memiliki banyak tempat hiburan. Keberadaan radio bersejarah itu menjadi base di tengah keringnya tempat dan acara hiburan masyarakat kelas menengah ke bawah di Cimahi.

Radio tersebut menyiarkan memperdengarkan genre musik seperti pop, keroncong, sunda, bahkan rock, blues, dan country, diputar para penyiar memanjakan telinga pendengar mulai dari segmentasi anak-anak hingga Lanjut Usia (Lansia).

Olan Siswanto, salah satu penyiar Radio Unasko masih ingat betul masa kejayaan radio yang digawanginya, yang memang mengudara untuk mengisi kekosongan hiburan masyarakat menengah ke bawah.

"Siarannya sejak subuh hingga jarum jam menunjukkan tengah malam enggak berhenti menyapa pendengar setianya," kata Olan saat dihubungi, Selasa (3/2/2020).

Dengan segmentasi yang beragam dari kebanyakan radio lainnya, Radio Unasko mengalami masa keemasan Unasko terjadi antara tahun 1974 hingga 1990-an. 

Apalagi, arah jangkauan dari Radio Unasko cenderung ke arah barat, seperti Cililin, Sindangkerta, Gunung Halu, Padalarang, bahkan Perbatasan Cianjur dengan Kabupaten Bandung saat itu, di Rajamandala, yang saat ini masuk daerah Kabupaten Bandung Barat (KBB).

"Mulai subuh kita sudah siaran untuk program ceramah subuh, lanjut ke lagu sunda, lagu jawa. Ada juga dongeng-dongeng seperti Abah Gayot dengan pendongeng lokal yang membawakan acaranya. Baru antara jam 9 malam itu acara musik untuk anak muda sampai jam 12 malam," ceritanya. 

Olan sendiri bergabung dengan Radio Unasko tahun 1973 hingga tahun 1982. Ia pernah mencicipi peran sebagai penyiar, penanggung jawab program siaran, hingga manager. 
Saat itu pula, Olan ingat bagaimana remaja Cimahi saat itu begitu gandrung berkirim salam dengan sejawat khas radio-radio hingga saat ini. Tentu, dengan permintaan lagu khusus yang diminati. Mulai dari sesi bercerita hingga saling berkirim salam. 

"Kalau kirim salam itu memang sangat terkenal, setiap hari ada yang antre, karena dulu belum pakai ponsel. Jadi harus menulis di kertas, langsung di kantor Radio Unasko," bebernya. 

Kini cerita tentang Radio Unasko mulai terlupakan. Tempatnya yang dulu, kini dialihfungsikan menjadi coffeeshop dan tempat pengiriman paket. Tak ada lagi sisa-sisa kebesaran Radio Unasko, radio kaum menengah kebawah yang pernah jaya di Cimahi. 

Tahun 2004 atau tiga tahun setelah Cimahi menjadi kota mandiri, kata Olan, radio tersebut masih mengudara. Hanya memang pendengarnya sudah tak seperti dulu lagi.

"Akhirnya ada pihak yang akuisisi dan digabung dengan radio dari Jakarta. Jadi sebetulnya engga berhenti, tapi digabung dan berubah nama," pungkasnya. 

 

Baca Lainnya

Morgen Indriyo Margono
Morgen Indriyo Margono

Unasko di tahun 90-an sempat jadi radio country. Dan tahun 1997 - 2002 sempat Ber KSO dengan Pesona FM Jakarta, sehingga call sign nya menjadi Unasko FM Pesona Citra Wanita. Kala itu menjadi radio dengan positioning radio wanita. selepas tahun 2004 ber KSO lagi menjadi Radio TPI Dangdut, kemudian beralih kerjasama sehingga menjadi Radio Thomson dan saat ini menjadi Radio Vestgreen.

22 Oktober 2020 2:33 Balas