Sabtu, 2 November 2019 13:57

Mengintip Kisah Inspiratif Napi Asal KBB

Reporter : Fery Bangkit 
Hasil Seni Karya Adhe Abdul Rosyid (lampion pipa)
Hasil Seni Karya Adhe Abdul Rosyid (lampion pipa) [Fery Bangkit]

Limawaktu.id - Label mantan narapidana (napi) yang disandang Adhe Abdul Rosyid patah arah. Meski pernah mendekam dibalik jeruji, pria berusia 48 tahun itu tetap berkarya.Bersama napi lainnya, Adhe produktif membuat lampion pipa yang bernilai seni tinggi.Saat ditemui kediamannya (2/11/2019).

Kampung Cijeungjing, Desa Kertamulya, Padalarang, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Adhe tampak asyik menggukir corak pada sebilah pipa. Tangannya meliuk-liuk sambil menggenggam gerinda kecil, menggambar bunga.

Adhe Abdul Rosyid saat menggukir corak pada sebilah pipa

Setelah gambar terukir, ia melubangi beberapa sisi gambar tersebut, kemudian memasukkan lampu di celah pipa tersebut. "Nah, kalau sudah keluar cahaya (dari lampu) begini jadi lebih cantik," terang Ade. Untuk membuat lampion, Adhe memanfaatkan pipa-pipa bekas bangunan dari tempat sampah atau rongsokan. Barang bekas itu kemudian bawa ke bengkel sekaligus rumahnya. Ia tak sendiri melainkan dibantu enam rekannya yang merupakan sesama mantan narapidana.

"Sehari bisa selesai tiga lampion. Untuk sementara ada yang membuat bagian kaki atau menghampelas," terang Ade. Untuk inspirasi, pertama kalinya Ade melihat dari tayangan Youtube. Setelah ia mencobanya selama dua bulan, akhirnya lampion itu diproduksi secara masal. Saat ini, Adhe telah memiliki 20 corak lampion yang berbeda dengan berbagai ukuran. Satu set lampion dijualnya dengan harga mulai dari Rp 50 ribu sampai Rp 100 ribu.

Sebelum menekuni usahanya yang sekarang, terlebih dahulu Adhe berkecimpung dalam usaha ukiran atau menata gazeebo, sehingga ia tak begitu kesulitan saat mengalihkan kreasinya ke pipa. Ia pun bisa menerima pembuatan corak lampion pipa sesuai pesanan.

"Sekarang paling hanya soal modal dan pemasarannya saja, kalau alat-alat sekarang cukup. Sejauh ini pembeli paling hanya dari mulut ke mulut saja," ujarnya. Pernah Tersandung Kasus Narkoba. Jauh sebelumnya, Adhe sempat merasakan hidup dalam jeruji besi karena tersandung kasus penyalahgunaan narkotika tahun 2000. Ia mendekam di Lapas Banceuy selama dua tahun. Setelah kembali berbaur dengan masyarakat, Adhe selalu mendapat stigma negatif karena napi yang disandangnya.

"Saya bebas tahun 2003, saat saya kembali ke masyarakat. Saya selalu dipandang sebelah mata, jangan gaul sama Adhe, nanti kebawa-bawa," kenangnya. Selain itu, Adhe juga kesulitan untuk mendapatkan pekerjaan di sekitar rumahnya. "Paling kalau menerima pekerjaan membuat relief atau taman, yang memperkerjakan tidak tahu masa lalu saya," ujarnya.

Kendati begitu, ia tak patah semangat untuk menebar kebaikan. Ia membantu proyek seni di kampung, hingga akhirnya dipercaya untuk membina Karang Taruna di Desa Kertamulya.
"Ada mungkin 10 orang yang merapat ke saya, kata orang tuanya nitip untuk dibina," katanya.

Ketua Yayasan Batas Cakrawala, Iwan Setiawan mengatakan, pihaknya mencoba membina eks narapidana agar bisa berdaya kembali di masyarakat. "Selain berdaya, kami juga membantu agar mereka bisa kembali diterima di masyarakat," kata Iwan. Saat ini, yayasan yang didirikan Iwan juga membina 50 warga binaan lainnya, mulai dari gelandangan pengemis (gepeng), Lanjut Usia (Lansia), narapidana umum dan teroris. 

Baca Lainnya

Topik Populer