Minggu, 12 Agustus 2018 13:45

Memaksimalkan Peran 13 Ahli Gizi untuk Atasi Kasus Stunting di Cimahi

Reporter : Fery Bangkit 
ilustrasi
ilustrasi [net]

Limawaktu.id,- Sebanyak 13 ahli gizi di Kota cimahi terus dimaksimalkan Dinas Kesehatan Kota Cimahi untuk mengantisipasi masalah stunting atau anak berperawakan pendek.

Ke-13 tenaga ahli gizi itu tersebar di 13 Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskemas) se-Kota Cimahi. Satu ahli gizi menempati satu Puskemas.

Baca Juga : Jumlah Anak Stunting di Cimahi Capai 7 Ribu Lebih

Sekretaris Dinas Kesehatan Kota Cimahi, Fitriani Manan mengatakan, memang jumlah 13 ahli gizi tidak cukup untuk mengcover seluruh wilayah Kota Cimahi. Tapi, ada kader kesehatan yang membantu mereka untuk melakukan penyuluhan masalah gizi anak.

"Untuk mengcover, 13 gak lah (gak cukup), tapi kan dibantu tenaga Puskemas lain, bidan, perawat, kader kesehatan kader, Posyandu. Ada 400 lebih Posyandu (di Cimahi)," ujar Fitriani, Minggu (12/8/2018).

Dari jumlah 39.169 balita di Kota Cimahi, jumlah anak stuntingnya mencapai 6.166 anak atau 15,74%.Balita adalah usia anak sejak 0-59 bulan. Para ahli gizi dan tenaga lainnya difokuskan untuk penanganan gizi sejak baduta atau 0-24 bulan. Sebab, masa pertumbuhan anak adalah usia 0-24 bulan.

"Baduta itu adalah bagian dari balita jadi jumlanya stuntingnya adalah 6.166 atau 15,74persen," tegasnya.

Fitriani menjelaskan, selain fokus terhadap penyuluhan, para ahli gizi dan kader kesehatan juga akan melakukan pemeriksaan. Seperti pengukuran berat dan tinggi badan anak.

Para kader kesehatan akan bertugas untuk mengantisipasi mengantisipasi kasus stunting sejak remaja. Dikatakannya, sejak remaja, pihaknya sudah menyiapkan kaum perempuan untuk menjadi seorang ibu.

Di antaranya dengan program tablet tambah darah untuk semua remaja putri SMP/SMA. Sebab, kata Fitriani, berdasarkan hasil survey, remaja putri di Kota Cimahi banyak yang mengalami anemia.

"Awalnya anemia, kalau dibiarkan pada saat sudah menikah, hamil biasanya ada hemodilusinya turun lagi. Akibatnya anaknya bisa berat lahir rendah, nanti pertumbuannya lebih kecil," jelas Fitriani.

Kemudian, terang Fitriani, saat masa kehamilan, ibu hamils harus dilakukan pemantauan dan pemeriksaan selama sembilan bulan masa kehamilan. Termasuk pemberian gizi.

Aturannya minimalnya, wanita hamil harus dilakukan pemeriksaan selama empat kali selama masa kehamilan.
"Diperiksanya itu 3 (tiga) bulan pertama sekali, 3 (tiga) bulan kedua sekali dan 3 (tiga) bulan ketiga 2 (dua) kali. Itu minimal sekali, harusnya lebih sering," ungkapnya.

"Selama kehamilan pertama itu diperiksa berat badan, tensi. Terus kita pantau. Kalau kurang gizi, kita tambahan makanan bergizi," tambah Fitriani.

Kemudian setelah lahir, bayi itu tetap harus kontak dengan tenaga kesehatan. Minimalnya selama 28 hari sejak pertama lahir. Bayi harus diimunisasi minimalnya delapan kali.

"Setiap bulan harus ke Posyandu. Bayinya minimal 8 (delapan) kali diimunisasi," tandasnya.

Fitriani melanjutkan, ada sejumlah faktor yang menyebabkan anak mengalami pertumbuhan anak menjadi stunting. Faktor utamanya adalah masalah gizi baik saat di dalam kandungan maupun sesudah lahir saat usia 0-24 bulan.

"Bisa karena ibunya waktu hamil, misal anemia, kurang gizi. Bisa juga penyakit penyerta, ada juga yang genetik," jelasnya.

Status gizi dua tahun pertama kehidupan itu harus benar-benar terjaga. Sebab, usia kandungan hingga dua tahu kehidupan merupakan masa pertumbuhan dan sebagainya.

"Kan dua tahun pertama kehidupan itu si anak biasanya masanya bisa jalan, bisa ngomong. Jadi gizinya harus maksimal," jelas Fitriani.

 

Baca Lainnya