Selasa, 6 Maret 2018 13:04

Majelis Adat Gagang Cikundul: Ngaos, Mamaos, Maenpo Filosofi Urang Cianjur Yang Dilupakan

Reporter : Jumadi Kusuma
Deklarasi Masyarakat Adat Gagang Cikundul (MAGC) Kabupaten Cianjur.
Deklarasi Masyarakat Adat Gagang Cikundul (MAGC) Kabupaten Cianjur. [Limawaktu]

Limawaktu.id,- Latar belakang lahirnya gerakan Majelis Adat Gagang Cikundul (MAGC) Kabupaten Cianjur adalah keprihatinan terhadap pembangunan yang tidak berbasiskan kearifan lokal, salah satunya adalah kasus alih fungsi bangunan SD Ibu Jenab yang menafikan nilai historis dan kekayaan budaya setempat.

Demikian pernyataan Ketua Karatuan MAGC Susane Febriyati Soeriakartalegawa pada Deklarasi Sadar Adat dan Budaya bertempat di Gedong Asem Jl. KH. R. Muhammad Isa Al-Kholidi No. 9 Cianjur, Minggu (4/3/2018).

Selain itu menurut Susane, pembangunan telah melupakan filosofi warisan leluhur Cianjur yaitu ngaos, mamaos, maenpo.

Diketahui, Ngaos adalah tradisi mengaji yang mewarnai suasana dan nuansa masyarakat Cianjur yang religius sebagai kota santri dan kyai yang gencar mengembangkan syiar Islam.

Mamaos adalah seni budaya yang menggambarkan kehalusan budi dan rasa menjadi perekat persaudaraan dan kekeluargaan dalam tata pergaulan hidup. Seni mamaos tembang sunda Tembang Cianjuran lahir dari hasil cipta, rasa dan karsa Bupati Cianjur R. Aria Adipati Kusumahningrat atau Dalem Pancaniti.

Sedangkan Maenpo adalah seni bela diri pencak silat yang menggambarkan keterampilan dan ketangguhan yang diciptakan oleh R. Djadjaperbata (R. H. Ibrahim), yang memiliki ciri khas permainan rasa atau kepekaan yang mampu membaca segala gerak lawan.

"Dengan memegang filosofi tersebut yang ditafsirkan dalam kontek kekinian, diharapkan masyarakat adat memiliki martabat, hak-hak politik, sosial dan ekonomi yang berdaulat", jelas Susane.

Sementara, Oli Solihin pengurus MAGC memaparkan, dari perjalaan sejarah, tradisi leluhur, situs maupun cagar budaya nasional adalah harta karun tidak ternilai harganya serta harus dihormati, dan dilestarikan sebagai bagian dari hak asal usul.

“Melalui deklarasi ini kita sepakat mengecam dan mengutuk keras sejumlah oknum pelaku sengaja dan jahat merusak cagar budaya. Meskipun itu ada dugaan pemangku kebijakan yang bisa dikatakan arogan,” tegasnya.

Deklarasi yang dihadiri oleh sekira 150 orang tersebut juga dihadiri para ulama, tokoh masyarakat, sesepuh kabuyutan dan perwakilan dari Polres dan Kodim di Kabupaten Cianjur.