Rabu, 1 Mei 2019 12:40

Mahasiswa Unjani Sulap Tomat Busuk jadi Baterai

Reporter : Fery Bangkit 
Muhammad Abidin dan Fitri Isni Apriliany saat mendapat penghargaan Juara I Lomba Karya Tulis Ilmiah Himagro Incredible Festival 2.0 2019.
Muhammad Abidin dan Fitri Isni Apriliany saat mendapat penghargaan Juara I Lomba Karya Tulis Ilmiah Himagro Incredible Festival 2.0 2019. [ferybangkit]

Limawaktu.id - Inovasi terbarukan lagi-lagi diciptakan mahasiswa Universitas Jenderal Achmad Yani (Unjani) Cimahi. Kali ini, pelaku utamanya adalah Muhammad Abidin dan Fitri Isni Apriliany.

Mereka berhasil menciptakan baterai jenis C dengan bahan baku tomat busuk yang diberi nama Bamat alias Baterai Tomat. Bahan baku yang digunakan sangat ramah lingkungan dan berpeluang mensejahterakan petani tomat.

Abidin menuturkan, awalnya ia dan rekannya itu bukan menggunakan tomat busuk sebagai bahan utama membuat baterai. Melainkan menggunakan belimbing wuluh. Tepatnya dua tahun lalu. Namun, sulitnya memperoleh belimbing wuluh, akhirnya mereka mencari alternatif yaitu tomat busuk yang dibuat hanya dua bulan.

"Saya berpikir memakai tomat, namun kalau tomat yang bagus sudah punya nilai jual. Akhirnya saya berpikir memanfaatkan tomat busuk, alhamdulillah berhasil," ujarnya saat ditemui di Kampus Unjani di Cimahi, Jalan Terusan Sudirman, Rabu (1/5/2019).

 Muhammad Abidin saat memperlihatkan Bamat alias Baterai Tomat buatannya.

Inspirasi tomat busuk sebagai bahan bakunya itu bermula dari rasa keprihatinan melihat banyak tomat di tingkat petani yang terbuang percuma. Dari total produksi tomat sebanyak 91.6000 ton per tahun, 80 persen di antaranya menjadi tomat busuk. 

Dari sanalah Abidin rekannya berinisiatif untuk memanfaatkan limbah organik itu. Tomat busuk kombinasikan dengan limbah B3 untuk menghasilkan energi. 

Langkah pembuatannya, tomat busuk itu diblender terlebih dulu. Kemudian, baterai bekas dibongkar termasuk mengeluarkan limbah B3 yang dinamakan pasta. "Kemudian kita buat pasta baterai tomat (bamat) dengan perbandingan 50 gram per 50 mili dari pasta jus tomat dan limbah b3nya. Lalu dimasukan ke baterai bekas dan dilem dan diukur tegangannya," tambah Fitri.

Baterai berbahan baku tomat busuk jenis C memiliki tegangan 1,025 Volt hingga 1,6 Volt. Namun, kondisinya sering naik turun. Sedangkan tegangan standar baterai pada umumnya sekitar 1.5 volt.  "Kita sudah melakukan percobaan bamat digunakan untuk menggerakan dinamo. Tegangannya bisa mencapai 1.6 volt tapi belum stabil masih naik turun. Kita akan kembangkan terus," jelasnya.

Bamat alias Baterai Tomat saat berhasil menjuarai Lomba Karya Tulis Ilmiah Himagro Incredible Festival 2.0 2019.

Saat bereksperimen baterai tomat, Abidin dan Fitri mengaku mengeluarkan dana hanya mencapai Rp 40 ribu. Cara membuat baterai tomat busuk pun relatif mudah karena hanya memerlukan peralatan obeng minus, pisau dan lem. Menurutnya, baterai tersebut kini aman digunakan. Tidak hanya itu, baterai tersebut jika habis daya bisa diisi ulang.

"Kami akan melakukan penelitian lebih lanjut. Kami akan coba mengetahui MAH yaitu kapasitasnya dan waktu hidupnya bisa dichas berapa kali," katanya.

Inovasi yang diciptakan keduanya pun mendapat pernghargaan, yakni Juara I Lomba Karya Tulis Ilmiah Himagro Incredible Festival 2.0 2019, yang diikuti berbagai universitas kenamaan di Indonesia. Mereka berhasil menyisikan universitas seperti Unpad dan ITB.

"Alhamdulillah kami bersyukur menang dan bisa bersaing dengan kampus-kampus lainnya," katanya.

Rektor Unjani, Mayjen TNI Witjaksono mengungkapkan banyak mahasiswa yang sudah membuat penemuan dan memperoleh hak cipta. Kampus, menurutnya terus mendorong mahasiswa untuk menciptakan penemuan untuk masa depan. 

"Mahasiswa yang (ikut lomba) setingkat nasional, saya sudah buatkan SK. Saya bebaskan untuk tidak membuat skripsi," ungkapnya. 

Baca Lainnya