Jumat, 17 November 2017 14:32

Lemahnya Pengawasan Sebabkan Pelajar Suka Bolos

Reporter : Fery Bangkit 
ilustrasi
ilustrasi [pixabay]

Limawaktu.id, – Prilaku negatif pelajar, seperti bolos saat jam sekolah alias ‘mabal’ mendapat tanggapan serius dari Pengamat Pendidikan Sekolah Tinggi Ilmu Pendidikan (STKIP) Pasundan, Dr. Chaerul Sobar.

Menurutnya, prilaku buruk pelajar tersebut disebabkan masih lemahnya pengawasan dan peran serta para orang tua dan sekolah. Selain tentunya kedisiplinan pelajar itu sendiri.

Baca Juga : Mabal di Warnet, Puluhan Pelajar Diciduk Petugas

“Masyarkat, orang tua dan sekolah harusnya memiliki peran aktif dalam pengawasan anak-anak mereka,” ujar Chaerul saat dihubungi via handpohne, Jum’at (17/11/2017).

Dikatakannya, pendidikan karakter harus lebih diterapkan lagi, baik di lingkungan keluarga maupun lingkungan sekolah formal.

“Karena yang dinamakan pendidikan itu bukan hanya di bangku sekolah formal, tapi juga harus dibangun juga di lingkungan keluarga,” ucapnya.

Menurut Chaerul, kurikulum tentang budi pekerti dan akhlak semestinya harus dimasukan kembali dalam materi pembelajaran. Selain itu, sekolah juga harus berani menerapkan pola disiplin dengan pemberian sanksi yang mendidik.

“Tujuannya, agar para pelajar lebih memahami dan mengerti arti kedisiplinan. Kurikulum yang dinamakan budi pekerti harus masuk lagi, dan peran serta masyarakat, bagaimana masyarakat peduli,” imbuh Chaerul.

Dihubungi terpisah, Kepala Dinas Pendidikan Kota Cimahi Dikdik Suratno Nugrahawan menyatakan, pihaknya akan memperketat pengawasan terhadap pelajar di Kota Cimahi.

“Tentu akan kami perketat. Saat jam belajar gerbang ditutup, disediakan petugas piket untuk melihat, untuk memantau, memantau sejauh mana siswa hadir,” katanya.

Diakui Dikdik, selama ini pihaknya kerap menerima laporan dari masyarakat perihal adanya siswa yang berkumpul di jam sekolah, termasuk di Warung Internet (Warnet).

“Yang jelas adanya laporan dari masyarakat harus kami tindaklanjuti, harus kami antisipasi,” ujarnya.

Menurutnya, berkumpulnya siswa saat jam pelajaran sangat rentan sekali pengaruh negatif, untuk melakukan hal-hal di luar nalar.

“Siswa lebih gampang didoktrin, karena pengaruh negatif itu sering muncul manakala anak dalam kelompok yang tak terarah,” ucap Dikdik. (kit)

Baca Lainnya