Rabu, 2 Januari 2019 16:49

Lama Istirahat, IAGI:Gunung Guntur Bisa Meletus

Reporter : Fery Bangkit 
 Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Igan Supriatman.
Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Igan Supriatman. [Fery Bangkit/Limawaktu]

Limawaktu.id - Ahli gunung api dari Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Igan Supriatman menyebutkan, Gunung Guntur, Garut bisa menjadi bom waktu. 

Artinya, meski statusnya masih normal, peneliti gunung api memberi perhatian terhadap aktivitas Gunung Guntur. Gunung itu dipercaya masih bisa meletus setelah beristirahat cukup lama.

"Sekarang kita lagi intensif memonitor Gunung Guntur yang telah lama beristirahat hampir sekitar 200 tahun. Harus diantisipasi, karena gunung yang biasanya istirahatnya lama akan menimbulkan letusan besar," ungkap Igan Rabu (2/1/2018). 

Contohnya kata dia, Gunung Sinabung. Setelah istirahat selama 1.000 tahun, gunung yang terletak di Kabupaten Karo Sumatera Utara ini menampakan aktivitasnya dengan kembali meletus tahun 2010 lalu. Letusannya bahkan berlangsung hingga kini meski tidak sebesar seperti tahun 2010.

"Gunung ini (Sinabung) sudah lama sekali tidak terpantau  aktivitas, tapi tiba-tiba timbul letusan besar. Bahkan letusannya terus terjadi selama 7 tahun. Jadi menurut saya, semakin lama gunung itu tidur, semakin berbahaya kalau dia meletus," katanya.

Dia mengatakan, dari ratusan gunung api di Indonesia, wilayah Jawa Barat paling banyak gunung apinya dimana terdapat tujuh gunung api aktif. Namun, aktifitasnya tidak ada saling keterkaitan antara satu gunung dengan yang lainnya. Kalaupun meletus dalam waktu bersamaan, hal itu hanyalah kebetulan saja.

Terkait status Gunung Anak Krakatau, peneliti dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) ini juga menyebutkan, masyarakat tidak perlu cemas dengan potensi bahaya letusan susulan gunung yang berada di Perairan Selat Sunda tersebut, pasalnya aktivitas kegempaannya terus menurun dalam beberapa hari terakhir.

"Potensi longsoran sudah tidak ada karena materialnya sudah hampir habis. Namun yang perlu diperhatikan, Gunung Anak Krakatau bisa kembali mengalami pertumbuhan sebab dia rajin meletus dalam skala kecil, bisa 1-6 kali dalam setahun," bebernya.

Jika diibaratkan sebagai anak, menurut dia, Gunung Anak Krakatau adalah seorang anak yang bongsor karena pertumbuhannya sangat pesat. Bahkan diusianya yang relatif masih muda, sebelum meletus bulan Desember lalu, tingginya telah menyamai ibunya yang meletus dahsyat tahun 1883 silam.

"Setelah hampir 1500 tahun beristirahat, Krakatau meletus pada 1883 membuat tinggal sebagian saja dari gunung itu tersisa. Dia menghempaskan air laut yang menimbulkan gelombang laut mencapai 30-40 meter di sepanjang pantai barat Banten dan pantai selatan Lampung, suara dentumannya sampai terdengar hingga ke Australia," pungkasnya.

Baca Lainnya