Sabtu, 3 Februari 2018 17:51

Kurang Pahamnya Warga Tentang Difteri jadi Bukti Minimnya Sosialisasi dari Pemerintah Kota Cimahi

Reporter : Fery Bangkit 
Warga Menerima Obat Pereda difteri di Kelurahan Cigugur Tengah, Kecamatan Cimahi Tengah, Kota Cimahi RT 07/04, Sabtu (3/2/2018).
Warga Menerima Obat Pereda difteri di Kelurahan Cigugur Tengah, Kecamatan Cimahi Tengah, Kota Cimahi RT 07/04, Sabtu (3/2/2018). [Limawaktu]

Limawaktu.id - Kasus meninggalnya Muhammad Dicki (5) karena virus Difteri menjadi bukti betapa bahayanya virus tersebut. Hal tersebut tentunya menjadi warning bagi Pemerintah Kota Cimahi.

Dicki, yang sehari-harinya tinggal bersama Neneknya di RT 07/04 Kelurahan Cigugur Tengah Kecamatan Cimahi Tengah Kota Cimahi dinyatakan meninggal pada Kamis, 1 Januari 2018.

Sebagai pelayan masyarakat, Pemerintah Kota Cimahi tentunya harus lebih gencar memberikan informasi dan edukasi terhadap masyarakat tentang bahaya dan pencegahan difteri. Pasalnya, pemahaman akan difteri belum sepenuhnya diterima masyarakat secara menyeluruh.

Salman Sopian, Ketua RT 07 RW 04 menuturkan, munculnya kasus warganya yang terjangkit difteri menjadi bukti masih minimnya informasi dan pemahaman warga tentang virus berbahaya itu. "Jujur, kurang informasi tentang difteri. Warga butuh informasi," kata Salman saat ditemui usai pemberian obat pereda difteri di RT 07/04, Sabtu (3/2/2018).

Dikatakannya, dengan ditemukannya kasus difteri di Kota Cimahi, tentunya menjadi pembelajaran bagi warga dan Pemerintah Kota Cimahi agar lebih peka lagi terhadap penyakit difteri. "Dari kejadian ini ada hikmahnya. Jadi warga harus lebih banyak lagi menerima dan mencari informasi tentang difteri," ujarnya.

Dadang Suherman (37), Ayah dari almarhum Muhammad Dicki mengungkapkan, sejauh ini ia belum tahu banyak tentang difteri. Sebelum anaknya meninggal pun, Dadang tidak tahu jika anaknya terindikasi difteri.
"Saya taunya difteri dari televisi aja," ucapnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kota Cimahi, Pratiwi mengatakan, dengan temuan kasus pertama difteri di Cimahi ini, pihaknya akan kembali melayangkan surat edaran tentang kewaspadaan dini Kasus Luar Biasa (KLB) difteri kepada seluruh rumah sakit, Puskesmas, klinik swasta, Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dan Ikatan Bidan Indonesia (IBI).

Selain itu, pihaknya akan melakukan pengawasan ketat selama enam bulan ke depan terhadap peningkatan kasus Tonsilitis, Faringtis, cakupan imunisasi DPT lima tahun terakhir dan pemantauan cold chain."Juga melakukan cakupan imunisasi, ketersediaan vaksin dan penyimpanan vaksin. Kemudian sweeping untuk melengkapi status imunisasi dasar," ujarnya.

Baca Lainnya