Jumat, 2 Februari 2018 19:36

Kisah Penjual Jambu Biji: Pergi Pagi Buta Hanya untuk Rp 50 Ribu

Ditulis Oleh Fery Bangkit 
Abah Minsahi, penjual jambu biji yang masih berkeliling di usianya yang telah mencapai 88 tahun.
Abah Minsahi, penjual jambu biji yang masih berkeliling di usianya yang telah mencapai 88 tahun. [Limawaktu]

Limawaktu.id,- Pagi buta, dengan diiringi embun, Abah Minsahi sudah beranjak dari kediamannya di Kampung Sadang RT 17/10, Kelurahan Ciburuy, Kecamatan Ngamprah, Kabupaten Bandung Barat.

Dua karung kecil berisi jambu biji disertakan kakek tua berusia 88 tahun itu. Jambu yang dijadikannya sebagai penghasil rupiah itu akan ia jual dengan cara berkeliling. Sudah 25 tahun lamanya ia menjadi penjual keliling.

Saat ditemui, ia tengah duduk ditrotoar jalan Djulaeha Karmita, Kota Cimahi dan menunggu sisa barang daganganya yang belum terjual. Terlihat, ada 10 biji jambu lagi yang masih tersisa.

Sebab cuaca sedang terik-teriknya, pria yang sudah nampak keriput itu pun memilih tempat yang teduh. Setidaknya, bisa menghindarkannya dari sengatan matahari.

Sebatang rokok ditangannya terus dihisap, sesekali ia meneguk air mineral yang disimpan disampingnya. Memakai baju berwarna biru dilengkapi dengan topi berwarna hitam, ia tetap sabar menunggu sisa barang dagangannya yakni jambu biji.

Bahkan didalam tempat jambu itu, terlihat ada daun pisang yang telah kering, sehingga tampak seperti sampah.

"Abah mah tua di Cimahi, berjualan setiap hari sejak masih muda. Apapun yang bisa dijual, ya pasti didagangkan, sekarang hanya bisa jualan jambu," ujar Minsahi saat ditemui di sekitar Jalan Djulaeha Karmita, Jumat (2/2/2018).

Dulu, pertama kali ia menjual jambu, hanya laku Rp3.000/kilogram. Harganya pun semakin meningkat. Kini, ia menjualnya dengan harga Rp8.000/kilogram

Jambu biji itu ia membelinya dari orang yang memiliki pohon jambu di kampungnya, sehingga ia per harinya hanya mendapat keuntungan Rp 50 ribu.

Keuntungannya tak bersih. Pasalnya, dari penghasilannya harus ia sisihkan untuk makan dan ongkos pulang dan pergi. Sisanya diberikan kepada istrinya.

Jika jambu dalam karung itu tidak laku, ia titipkan dikios pedagang yang tak jauh dari tempat berjualannya.

"Besoknya Abah jual lagi, karena kalau dibawa pulang berat," katanya.

Minsahi sebenarnya memiliki 10 orang anak dari pernikahan bersama istrinya dan semuanya telah berumah tangga.

Ia terpaksa tetap berjulan karena tak mau menjadi beban anaknya yang telah memiliki beban untuk membiayai anak-anaknya.

"Mending jualan saja, biar tidak membebani anak, kalau hanya diam dirumah juga bosen hanya bisa tiduran," katanya.