Sabtu, 2 Februari 2019 18:05

Keren! Sekarang ada Paranti Bisa Proses Sampah ke Kompos Hanya 24 Jam

Reporter : Fery Bangkit 
Chondjaruddin Ahmad Wirasendjaja meciptakan mesin pengolahan sampah yang diberinama Paranti Composter.
Chondjaruddin Ahmad Wirasendjaja meciptakan mesin pengolahan sampah yang diberinama Paranti Composter. [ferybangkit]

Limawaktu.id - Sampah terbilang merupakan masalah utama di Kota Cimahi. Setiap harinya, kurang lebih ada sekitar 200 ton lebih sampah yang dihasillan dari warga Kota Cimahi.

Atas permasalahan itu, Chondjaruddin Ahmad Wirasendjaja merintis menciptakan mesin pengolahan sampah yang diberinama Paranti Composter.

Nama Paranti sendiri diambil dari Bahasa Sunda yang artinya tempat khusus atau tempat yang ditentukan untuk sesuatu. Sedangkan Composter kata Bahasa Inggris yang artinya alat pembuat kompos.

Mesin yang bahannya didominasi almunium ini memiliki ketinggian sekitar 80 sentimeter dengan lebar 40 sentimeter, sedangkan didalamnya terdapat mesin pencacah layaknya pisau blander.

Cara kerja mesin ini yakni sampah organik beserta zat addictive dimasukan ke dalam mesin untuk dihancurkan, lalu setelah hancur, sampah didiamkan untuk proses pengomposan.

Proses pengomposan itu hanya membutuhkan waktu sekitar 24 jam, setelah itu kemudian kompos dikeringkan di dalam mesin dalam beberapa menit dan setelah kering kompos dimasukan ke container dibawahnya dan siap diambil untuk digunakan.

"Cara kerja mesin ini sederhana, jadi mesin ini punya alat pencacah untuk mengecilkan sampah, sehingga mudah untuk dibusukan," jelasnya, Sabtu, (2/2/2019).

Dalam proses pembuatan mesin tersebut, ia berusaha untuk membuat Paranti Composter dengan waktu pengomposan hanya dengan waktu 24 jam. Sebab, kata dia, kalau pengomposannya lama alat yang lain juga sudah banyak.

"Selain itu sampah yang dihasilkan dari rumah tangga ada setiap hari. Kalau misalkan pengomposan dalam mesin itu butuh waktu lima hari kan gak mungkin ibu-ibu masaknya lima hari satu kali," ujarnya.
Mesin ini juga, lanjutnya, sudah dilengkapi dengan mesin pengering, sehingga bisa menghasilkan kompos yang kering dan tidak menjijikan sehingga sampah yang sudah diolah bisa langsung digunakan sebagai kompos.

Saat ini, Paranti Composter sudah mulai diproduksi secara masal dan mulai dipasarkan mulai Januari 2019. Kemudian pria yang akrab disapa Kang Adang ini bersama empat orang co-founder lainnya berusaha berinovasi dan berambah ke kegiatan yang berorientasi membantu lingkungan hidup.

"Setelah kita hitung biaya produksi, harganya Rp 11 juta per unit dan itu sudah termasuk garansi satu tahun kemudian kita juga kasih satu liter bakteri," ujar pria lulusan pendidikan Politeknik Mekanik Swiss ITB tahun 1985 ini.

Ia mengatakan, untuk membusukan satu kilogram sampah saat proses pengomposan dalam mesin tersebut membutuhkan sekitar 10 mililiter bakteri

Tak mudah bagi Kang Adang untuk menciptakan Paranti Composter ini. Sebab dari mulai penelitian hingga bisa diproduksi masal ia membutuhkan waktu selama satu tahun.

"Dari prototype pertama hingga prototype ketiga itu membutuhkan waktu satu tahun. Selama itu mesin ini tidak sempurna dari prototype pertama kita melakukan perbaikan terus," ucapnya.

Untuk prototype yang pertama, mesin ini berbahan kayu dengan kapasitas 5 kilogram sampah organik dan berat mesin 52 kilogram, sedangkan prototype yang kedua kapasitasnya 5 kilogram sampah organik dengan berat mesin 17 kilogram.

"Kalau prototype yang ketiga ini bahannya sheet metal jadi beratnya naik lagi sedikit tapi sekarang mudah untuk digeser atau dipindahkan," tandas Adang.

 

Baca Lainnya