Produser Film Berbahasa Sunda 'Nana' Jais Darga
Produser Film Berbahasa Sunda 'Nana' Jais Darga [Limawaktu.id]
News

Jais Darga Bangga Film Berbahasa Sunda ‘Nana’ Go Internasional

Limawaktu.id, Kota Cimahi – Bagi anda yang pernah nonton atau mendengar tentang suksesnya Film Berbahasa Sunda yang berjudul Nana, mungkin tidak menyangka jika novel yang diangkat menjadi Film Story pertama berbahasa Sunda itu ditulis oleh Warga Kota Cimahi. Film garapan sutradara Kamila Andini ini mengangkat kisah hidup ibunda Jais Darga , yakni Raden Nana Sunani (diperankan oleh Happy Salma). Cerita “Nana” terinspirasi dari satu bab novel “Jais Darga Namaku” yang ditulis oleh Ahda Imran

“Film Nana atau “Before, Now & Then” itu diangkat dari buku novel Jais Darga Namaku ,  yang ditulis oleh Ahda Imran dan kebetulan orang Cimahi. Nah seperti itu, Kang Ahda itu orang Cimahi. Dia dari umur 3 tahun atau berapa udah merantau di Cimahi. Dia lebih Sunda daripada orang Sunda,” terang Jais Darga, saat ditemui di Cimahi Mall Jalan Gandawijaya , Kota Cimahi, 12 Februari 2026.

Menurut Jais Darga, dibuatnya Film Nana merupakan sebuah persembahan untuk ibunya yang berupa film story, novel biografi. “Kebetulan kita satu ide, satu tim ini, saya dengan sutradara, dengan yang turut di sana semua, jadi kita memutuskan memakai bahasa Sunda. Karena bahasa Sunda, film berbahasa Sunda itu belum ada. Ada dulu Lutung Kasarung, tapi itu film bisu. Dan yang membuat Belanda,” kata  wanita turunan ningrat asal Limbangan, Garut ini.  

Dia menjelaskan, tujuan dibuatnya film berbahasa Sunda tersebut untuk mewariskan budaya Sunda kepada masyarakat Sunda.

Film Nana tersebut setelah diproduksi dan diedarkan ternyata go internasional dan sudah diputar disejumlah negara dan ratusan kota di dunia.

“Jadi itu udah keliling kemana-mana, udah berapa puluh ratus negara mungkin ya, beberapa ratus kota sih. Di Perancis aja ada berapa kota, 9-13 kota, Di Perancis sampe di Israel, sampe di Arab, sampe Asia.Jadi kita bangga film berbahasa Sunda ini masuk menjadi kompetisi utama di Berlin. Itu suatu prestasi ya, jadi kita bangga orang Jerman bisa mendengar bahasa Sunda,” jelasnya.

Dia menlanjutkan dengan masuknya nominasi menjadi film terbaik saja sudah merasa bangga, karena Film ini menjadi bahasan diberbagai media secara terus=terusan baik di koran, di majalah, banyak wawancara-wawancara. Mereka suka sekali dengan filmnya itu.

“Sekarang saya dituntut lagi, kapan nih bikin film lagi? Ya nanti istirahat dulu, nanti deh,” lanjut Jais.

Dia menyebutkan, Film ini sebetulnya tidak untuk diputar di bisokop karena sudah dibeli oleh Amazon. Jadi hanya  gratis aja. Jadi ada waktu premiere, beberapa kota untuk nonton bareng.

 

 

Baca Lainnya