Rabu, 27 September 2017 14:05

Ini Penjelasan BKIPM Jabar Soal Penyebab Kematian Puluhan Ton Ikan

Reporter : Fery Bangkit 
Kepala BKIPM Perwakilan Jawa Barat Dedy Arief Hendriyanto memberikan keterangan kepada wartawan, di Kantor BKIPM Jawa Barat, Jalan Ciawitali, Cimahi
Kepala BKIPM Perwakilan Jawa Barat Dedy Arief Hendriyanto memberikan keterangan kepada wartawan, di Kantor BKIPM Jawa Barat, Jalan Ciawitali, Cimahi [limawaktu dok]

Limawaktu.id, - Hasil sementara yang disampaikan pada Rabu (27/9/2017), penyebab kematian puluhan budidaya ikan milik para peternak dikarenakan faktor kualitas air, racun sisa pakan ikan dan cuaca.

“Kita simpulkan sementara dugaan adalah karena pengaruh cuaca di sana, kemudian ada pengaruh racun yang naik dari dasar air ke permukaan,” jelas Kepala BKIPM Perwakilan Jawa Barat Dedy Arief Hendriyanto saat ditemui di Kantor BKIPM Jawa Barat, Jalan Ciawitali, Cimahi, Rabu (27/9/2017).

Dia menjelaskan, dari data hasil parameter yang telah di analisa, kualitas air di lokasi budidaya ikan di Waduk Saguling sangat buruk.

Sementara faktor cuaca, jelas Dedy, musim kemarau kali tahun ini tergolong cepat, sehingga Ph air sangat tinggi. Ph air merupakan salah satu faktor penting dalam budidaya ikan secara hidroponik.

Untuk kandungan amoniaknya pun tergolong tinggi. Dari semua parameter kualitas air yang mempengaruhi ikan, amoniak merupakan hal yang paling penting, setelah oksigen, terutama dalam tambak intensif dan semi intensif.

Amoniak akan menjadi racun bagi ikan jika dibiarkan menumpuk dalam jumlah yang banyak di tambak. Ketika amoniak terakumulasi sampai tingkat beracun, ikan tidak dapat mengekstrak energi pakan ecara efisien, akhirnya ikan akan lesu, sakit hingga mati.

“Kemarin kita cek pH-nya hanya 5,3, kemudian amuniaknsya sangat tinggi juga 0,1 yang harusnya 0,02 sehingga mempengaruhi racun yang naik ke permukaan air,” jelas Dedy.

Atas dasar analisa tersebut, BKIPM Jawa Barat menyarankan agar para peternak budidaya ikan di Waduk Saguling untuk mengurangi kepadatan ikan per kerambanya, serta meninggikan keramba.

Sementara jika masih terdapat ikan yang mati, untuk segera diangkat agar tidak menular terhadap ikan yang masih hidup.

“Kami juga sekarang sedang mendiagnosa secara labolatorium apakah ada dugaan penyakit infeksius, sehingga kita juga nanti akan berikan kesimpulan baru, selain dari pengaruh racun di bawah karamba,” jelas Dedy.

Sebelumnya, akhir Agutus lalu dilaporkan sekitar 30 ton budidaya ikan mati mendadak di Desa Mukapayang, Kecamatan Cililin, Kabupaten Bandung Barat. Mayoritas ikan yang dibudidayakan ialah jenis nila.

Kerugian yang dialami peternak per ton-nya mencapai Rp 17 juta. Jika ditotalkan mencapai 30 ton, maka kerugian petani ditaksir mencapai Rp 510 juta. (kit)