Minggu, 28 Agustus 2022 13:17

Hanya 30 Persen Memilih, M. Farhan Teraspiratif di Kalangan Mahasiswa

Reporter : Iman Nurdin
Meski dipilih 30 persen dari survey, M. Farhan Teraspiratif di kalangan mahasiswa
Meski dipilih 30 persen dari survey, M. Farhan Teraspiratif di kalangan mahasiswa [Istimewa]

Bandung (limawaktu.id),- Survei anggota dewan terinspiratif kepada kalangan  mahasiswa  di Kota Bandung Jawa Barat hanya 30 persen memilih, 70 persen sisanya, mahasiswa memilih golput alias tidak memilih. Survei yang dilakukan oleh Kaukus Mahasiswa untuk Perubahan Kota Bandung ini menggunakan metode random sampling dengan responden sekitar 400 mahasiswa  se-Kota Bandung. Sedangkan sampling error sekitar 3 persen.

"Sayangnya, survey ini menghasilkan 70 persen memilih bersikap golput atau tidak memilih satu pun anggota dewan yang dinilai aspiratif. Sedangkan sisanya atau 30 persen menyatakan pilihannya, " kata Hilman,

"Ternyata angka nihilnya masih tinggi di kalangan mahasiswa. Alasannya, para dewan jika terpilih hanya mementingkan kepentingan pribadi, kemudian banyak terjadi korupsi, dan kinerjanya tidak terasa oleh rakyat, sehingga mereka lebih Golput," ungkap Koordinator Kaukus Mahasiswa untuk Perubahan Bandung, Hilman, Sabtu (27/08/2022).

Dalam survey tersebut, politisi Partai Nasdem M. Farhan tercatat dalam survei menjadi anggota DPR RI teraspiratif untuk kalangan  mahasiswa di daerah pemilihannya. Farhan juga dinilai dapat diandalkan dalam memperjuangkan kesejahteraan rakyat.

Sedangkan dua besar lainnya, di bawah Farhan yang tercatat sebagai anggota DPR RI teraspiratif untuk kalangan mahasiswa di dapil I diraih oleh Teddy Setiadi asal PKS, dan politisi Golkar Nurul Arifi menduduki peringkat ke tiga.

Hilman mengatakan, tema aspiratif yang dimaksud dalam survei yang dibagikan kepada mahasiswa ini antara lain, mahasiswa percaya jika para dewan tiga teratas tersebut lebih sering berkomunikasi juga berdiskusi bersama kalangan mahasiswa  dibandingkan dengan dewan lainnya.

Kemudian mereka dalam melakukan fungsinya yakni legislasi, bugeting dan pengawasan, seringkali terlebih dahulu melakukan diskusi bersama kalangan mahasiswa.

"Tetapi sayangnya dari hasil survei mahasiswa masih belum percaya para anggota dewan ini bersih dari hal berbau korupsi, kolusi, dan nepotisme. Mungkin hal ini dipercaya mahasiswa karena ada teori kekuasaan cenderung korup, " ujar Hilman.

Hilman mengatakan, dari hasil survei juga tercatat jika para dewan ini bisa melakukan perubahan yakni dipercaya bisa melakukan inovasi dalam melakukan tugasnya.

"Tentunya inovasi tersebut jika ingin tercipta harus didukung anggota dewan lainnya, karena dewan 'kan kolektif kolegial," ujarnya.

Survei kepada kalangan  mahasiswa  di Kota Bandung ini pun sayangnya, menurut Hilman, menghasilkan 70 persen memilih bersikap golput atau tidak memilih satu pun anggota dewan yang dinilai aspiratif. Sedangkan sisanya atau 30 persen menyatakan pilihannya.

"Ternyata angka nihilnya masih tinggi di kalangan mahasiswa. Alasannya, para dewan jika terpilih hanya mementingkan kepentingan pribadi, kemudian banyak terjadi korupsi, dan kinerjanya tidak terasa oleh rakyat, sehingga mereka lebih Golput," ungkap Hilman.

Baca Lainnya