Limawaktu.id, Jakarta - Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH), Hanif Faisol Nurofiq Hanif menyebut, sungai bukan hanya urat nadi kehidupan hari ini, tetapi juga penentu kualitas hidup generasi mendatang. Namun kondisi sungai di Indonesia masih memprihatinkan.
“Hasil Pemantauan Mutu Air Semester I 2025 di 4.482 lokasi pada 1.482 sungai menunjukkan 70,7% lokasi tercemar, sementara hanya 29,3% memenuhi baku mutu. Tiga provinsi: DKI Jakarta, Kepulauan Riau, dan Papua Selatan, bahkan mencatat seluruh titik pemantauan sungainya tercemar,” sebut Hanif, dalam Keterangan tertulisnya, Senin, 29 September 2025.
Menurut Hanif, Sebagai langkah strategis, KLH/BPLH telah menetapkan, tiga RPPMA untuk memulikan Daerah Aliran Sungai (DAS) Ciliwung, Citarum, dan Cipinang, serta mempercepat pengesahan empat dokumen lainnya. Sebanyak 15 dokumen tambahan tengah dikebut penyusunannya.
“RPPMA menjadi pedoman teknis dalam pengelolaan sungai, pemantauan kualitas air, serta pencegahan pencemaran secara lintas sektor dan lintas wilayah,” katanya.
Dia menjelaskan, membersihkan dan memulihkan sungai adalah investasi masa depan. Dalam momentum Hari Sungai Sedunia 2025 di Sungai Cipinang, Jakarta Timur, ia menyerukan aksi nyata lintas sektor sekaligus mempercepat penyusunan Rencana Perlindungan dan Pengelolaan Mutu Air (RPPMA) untuk mengatasi pencemaran sungai yang masih tinggi.
“Kita tidak mewarisi bumi dari nenek moyang, melainkan meminjamnya dari anak cucu kita. Maka tugas kita adalah menjaga agar pinjaman itu tetap utuh, bersih, dan bermanfaat,” kata Hanif dalam kegiatan yang mengusung tema “Our Rivers, Our Future” atau “Sungai Kita, Masa Depan Kita, ” jelasnya.
Hanif menegaskan bahwa menjaga sungai adalah tanggung jawab bersama. Dunia usaha perlu mengurangi limbahnya, akademisi memberi solusi inovatif, media menyuarakan kesadaran, komunitas menjaga kepedulian, dan masyarakat berperilaku bijak dalam membuang sampah. “Sungai adalah milik kita bersama, maka menjaga sungai juga tanggung jawab kita bersama,” tegasnya.
Ia mengingatkan bahwa perubahan besar selalu dimulai dari aksi lokal. Sungai Cipinang menjadi contoh nyata bahwa kerja kolektif bisa memberi dampak besar. “Cinta lingkungan bukan hanya slogan, tapi diwujudkan dengan tangan yang mau memungut sampah, hati yang peduli, dan pikiran yang mencari solusi,” tegasnya.