Sabtu, 23 Februari 2019 14:40

Gagal Budidaya Labu, Ibu Tiga Anak di Cimahi Raup Puluhan Juta dari Budidaya Jamur Tiram

Reporter : Fery Bangkit 
Yulia Ratnasari wirausaha budidaya jamur tiram.
Yulia Ratnasari wirausaha budidaya jamur tiram. [ferybangkit]

Limawaktu.id - Pernah gagal dalam budidaya labu siam lantas tak membuat Yulia Ratnasari patah semangat. Dengan jiwa wirausaha titisan orang tuanya, perempuan 39 tahun itu merintis usaha baru, yaitu budidaya jamur tiram.

Semua orang pastinya ingin berhasil dalam usahanya. Begitupun Yulia. Tapi, keinginannya memang tak berjalan mulus. Usaha bertani labu siam yang coba digelutinya ternyata tak membuahkan hasil sesuai skenario.

Penyebabnya adalah, budidaya labu siam saat itu dianggap terlalu membutuhkan banyak pegawai lumayan banyak. Sementara modal yang dimiliknya belum seimbang dengan pengeluaran yang harus ia kuras dari tabungannya.

Berbekal pengalaman itulah, Yulia berhenti budidaya labu siam. Ia mulai berpikir merintis usaha baru, dengan risiko yang tak terlalu besar. Yulia pun memutuskan untuk mencoba budidaya jamur tiram.

Ide itu tercentus ketika ia melihat temannya sesama petani yang terlebih dahulu berwirausaha jamur tiram. Karena tertarik, Yulia pun mencoba mencari informasi tentang tata cara budidaya jamur tiram.

"Tahun 2009 itu berhenti jadi petani labu. Saya keidean, termotivasi tani jamur," kata Yulia, Sabtu (23/2/2019).

Setelah memutuskan untuk wirausaha jamur tiram, ibu tiga anak itu mendapat kesempatan mengikuti bimbingan hingga pelatihan tentang cara teknis dalam budidaya jamur. Sejak itulah usaha barunya dirintis.

Memanfaatkan lahan kosong di belakang rumahnya, di Kampung Torobosan RT 02/12, Kelurahan Cipageran, Kecamatan Cimahi Utara, Kota Cimahi, ia menyulap lahan itu menjadi tempat usaha produktif.

Sekilas, memang bangunan berukuran 5x10 meter itu seperti tak menarik perhatian. Bahkan, cenderung seperti gubug tua. Bangunannya sangat sederhana, hanya ditutupi bilik di samping perkebunan pisang. 

Namun siapa sangka, bangunan sederhana itu membawa rezeki bagi Yulia dan keluarganya. Sebab, dari budidaya jamur tiram di sana yang lumayan besar.

Awanya, kata Yulia, ia hanya membuat 5 ribu media tanam jamur ditahun 2009, dengan modal sekitar Rp 12 juta. Namun karena terlihat menjanjikan, akhirnya ia memutuskan untuk lebih memperbanyak produksi, yakni menjadi 10 ribu baglog.

Dari 10 ribu baglog itulah Yulia akhirnya bisa memperoleh penghasilan yang lumayan besar setiap bulannya. Besarannya mencapai Rp 40-50 juta. Itu belum termasuk pengeluaran, seperti honor pekerjanya.

"Sekarang allhamdulihah omset bersihnya alhamdulilah Rp 15 juta per bulan," ucap Yulia.

Dalam kesempatan itu, Yulia juga menjelaskan tata cara budidaya jamur tiram.

Dikatakannya, unsur pertama yang harus dilakukan adalah adalah menyiapkan baglog atau media tanam untuk meletakan bibit jamur tiram. Bahan utama baglog adalah serbug gergaji kayu. Baglog itu dibungkus plastik, dimana salah satu ujungnya diberi lubang yang nantinya tumbuh jamur.

Kemudian, baglog itu harus dikukus terlebih dahulu. Lamanya pengukusan berlangsung sekitar 10 jam, dengan suhu udara 95 derajat celcius. Setelah selesai dikukus, baglog itu didinginkan selama 12 jam.

"Setelah itu dibibit," ucapnya.

Setelah pembibitan, baru dimasukan ke ruangan inkubasi. Di ruangan itu, bibit jamur diletakan selama tiga minggu pada rak-rak yang sudah disiapkan. Rak itu berfungsi untuk menyusun baglog.

Setelah dipastikan miseliumnya penuh, makan langsung dimasukan lagi ke ruang budidaya. Miselium adalah penyerap makanan dari organisme lain. Miselium itu akan muncul ketika baglog berada di ruang inkubasi.

"2 (dua) minggu kemudian baru siap panen. Jadi proses awal ke panen sekitar 1,5 bulan," terangnya.

Dalam satu periode tanam, jamur tiram dapat dipanen 4-10 kali, tergantung kondisi. Dari 10 ribu baglog yang dibudidayakan Yulia, biasanya jamur tiram yang dipanennya bisa mencapai 70kg hingga 1 kwintal.

"Kalau panen raya bisa 1,5 kwintal. Tapi biasanya kalau panen raya 3 (tiga) bulan sekali.

Selain dijual langsung, hasil panen jamur tiram itu dijadikan diproduksinya untuk membuat jamur crispy. Kini, produk itupun sudah dipasarkan dan menjadi salah satu produk UMKM unggulan Kota Cimahi. 

Dari hasil panen jamur tiram itulah Yulia bisa memperoleh penghasilan Rp 40-50 juta per bulan (kotor). Suaminya pun yang dulu bekerja di salah satu rumah sakit kini membantunya merinitas usaha budidaya jamur tiram.

Selain itu, dari usahanya, ia mampu membuka lapangan pekerjaan bagi warga lokal. Ada empat warga yang bekerja. "Menurut saya bisnis ini menjanjikan. Sekarang alhamdulilah bisa membuka lapangan pekerjaan," pungkasnya.

Baca Lainnya