Limawaktu.id, Jakarta Utara - Kesedihan masih menyelimuti wajah para warga penyintas kebakaran di Muara Angke, Kelurahan Pluit, Kecamatan Penjaringan. Rumah yang selama bertahun-tahun menjadi tempat berlindung kini tinggal kenangan. Namun, di tengah duka tersebut, perhatian dan kepedulian terus mengalir untuk memastikan mereka tidak menghadapi musibah seorang diri.
Hal itu terlihat saat Forkopimko Jakarta Utara bersama Dharma Wanita Persatuan (DWP), Tim Penggerak PKK Kota Administrasi Jakarta Utara, Baznas Bazis Kota Administrasi Jakarta Utara, dan para pemangku kepentingan lainnya menyambangi dua lokasi pengungsian di halaman depan Musholla Sirojul Muslimin dan lapangan RT 011 RW 022 Muara Angke, Jumat (28/8).
Kunjungan tersebut dilakukan untuk melihat langsung kondisi para penyintas sekaligus memastikan kebutuhan dasar mereka tetap terpenuhi selama berada di pengungsian. Wali Kota Kota Administrasi Jakarta Utara, Hendra Hidayat, menyampaikan rasa simpati dan keprihatinannya kepada warga yang terdampak. Ia mengajak para penyintas untuk tetap tabah dan bersama-sama melewati masa sulit tersebut.
"Hari ini, saya bersama rekan-rekan Forkopimko Jakarta Utara, PKK, DWP, dan semua yang peduli terhadap saudara-saudara kita yang terkena musibah di Muara Angke ingin memastikan pelayanan publik berjalan untuk memulihkan kebutuhan dasar warga melalui posko utama yaitu kesehatan, pendidikan, dukcapil, dan sosial," jelas Hendra Hidayat.
Tak hanya memastikan kebutuhan sehari-hari, pemerintah juga memberikan perhatian terhadap dokumen penting milik warga yang ikut hangus dalam kebakaran. Dalam kunjungan tersebut, Hendra menyerahkan KTP dan KK milik salah satu warga penyintas yang telah selesai diproses penggantiannya.
Ia juga memastikan pengurusan dokumen kependudukan maupun dokumen pendidikan yang terbakar dapat dilakukan melalui posko pelayanan yang tersedia. "Kepengurusan penggantian ijazah yang terbakar dan dokumen kependudukan lainnya bisa dilakukan di posko yang tersedia," imbaunya.
Berdasarkan rekapitulasi Kelurahan Pluit, sebanyak 46 kepala keluarga dengan total 131 jiwa terdampak kebakaran terdiri dari 64 laki-laki dan 67 perempuan. Sebagian warga hingga kini masih bertahan di dua lokasi pengungsian setelah kebakaran terjadi pada Rabu (26/8) malam.
Di antara para penyintas, ada Ade, warga yang telah sembilan tahun tinggal di lokasi tersebut. Saat api melalap rumahnya, ia mengaku hanya memiliki satu prioritas, yakni menyelamatkan anak-anaknya. "Saat terjadi kebakaran saya sedang di rumah, tapi karena panik tidak sempat membawa apa pun, apalagi KTP, KK, Akte, dan lain-lain. Jadi yang utama diselamatkan adalah anak-anak yang langsung saya bawa keluar," terang Ade.
Kini, Ade harus menghadapi kenyataan kehilangan tempat tinggal, yang membuat situasinya semakin berat, ia juga tengah menanti kelahiran buah hatinya yang dijadwalkan pada Senin mendatang. "Rumah terbakar dan saya tidak tahu lagi nanti mau tinggal di mana, apalagi nanti hari Senin saya akan melahirkan. Sekarang saya masih tinggal di tenda pengungsian," keluhnya.
Meski demikian, Ade mengaku bersyukur karena kebutuhan warga selama berada di pengungsian cukup terpenuhi. Bantuan dari berbagai pihak terus berdatangan, terutama untuk kebutuhan makanan sehari-hari. "Alhamdulillah di sini ada saja bantuan yang datang, termasuk kebutuhan makanan sangat tercukupi. Terima kasih atas kepeduliannya kepada kami di Muara Angke," tuturnya.