Kamis, 6 Desember 2018 16:23

Edukasi Belum Merata, Kesehatan Gigi Lokal Memprihatinkan

Reporter : Fery Bangkit 
Salah seorang warga yang tengah mendapatkan pelayanan dari RSGMP.
Salah seorang warga yang tengah mendapatkan pelayanan dari RSGMP. [Fery Bangkit/Limawaktu]

Limawaktu.id - Asosiasi Fakultas Dokter Gigi (Afdokgi) Indonesia menilai, kesehatan gigi dan mulut saat ini memprihatinkan. Hal itu disebabkan pola hidup masyarakat yang malas dalam melakukan perawatan.

Berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018, indeks karies gigi orang Indonesia dari saru orang dewasa, rata-rata ada 7 gigi yang mengalami kerusakan. Pada anak usia 15 sampai 20 tahun, dari satu anak ada tiga gigi yang bermasalah. Sedangkan untuk anak usia 12 tahun ke bawah, hanya. Dua gigi yang bermasalah pada setiap anak.

"Berdasarkan DMF-T atau indeks karies gigi, untuk orang dewasa masuk kategori sangat mengkhawatirkan. Dari 32 jumlah gigi orang dewasa, mereka mengalami kerusakan sekitar 7 gigi," ungkap Ketua Afdokgi Indonesia, Dr. Nina Djustiana, drg. M.Kes, saat ditemui di Rumah Sakit Gigi dan Mulut Pendidikan Unjani Kota Cimahi, Kamis (6/12/2018).

Dikatakannya, berbagai penyakit gigi yang dialami itu sebabkan karena rendahnya kesadaran merawat gigi, yang terakumulasi menjadi penyakit gigi dan mulut. Ia mencontohkan, misalnya di pedesaan,"itu memang mereka sikat gigi, hanya saja kadang tidak sadar cara sikat gigi yang baik itu seperti apa. Tidak peduli bentuk sikat giginya padahal sudah keriting bulu sikatnya, bahkan kita menemukan yang gagangnya patah dan bulunya kotor. Itu bahaya bagi kesehatan mulut dan gigi," jelasnya.

Yang harus dilakukan, lanjut dia, harus dilakukan edukasi yang berkelanjutan. Bagi anak-anak, yang harus dilakukan ialah perawatan kesehatan gigi dan mulut. Sedangkan orang dewasa fokus pada perawatan lanjutan. Namun kata dia, memang harus diakui edukasi perawatan kesehatan gigi dan mulut belum merata antara masyarakat pedesaan dan perkotaan.

"Untuk anak-anak itu perawatan dan pencegahan. Kalau orangtua biasanya setelah mendapat tindakan seperti cabut dan pasang gigi, scalling dan pembersihan, ekstraksi gigi, atau perawatan ortodontik, baru mereka rajin merawat gigi," terangnya.

Sementara drg. Rina Putri Noer Fadillah, Ketua Pelaksana Bulan Kesehatan Gigi Nasional di RSGMP Unjani, mengatakan jika masyarakat malas memeriksakan gigi karena takut ataupun harganya yang mahal. Untuk itu, pada BKGN kali ini RSGMP Unjani kebanjiran masyarakat yang ingin memeriksakan gigi dan mendapatkan pelayanan secara cuma-cuma.

"Kita kedatangan 1000 orang yang ingin memeriksakan gigi dan mendapatkan pelayanan. Kalau hari biasanya kan hanya sedikit. Mungkin mereka takut, malas, atau syok karena harga perawatan dan pemeriksaan gigi yang cenderung mahal," tuturnya.

Baca Lainnya